
SANGATTA – Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Tuah Benua (TTB) Kutai Timur memastikan kesiapan infrastruktur air baku dengan mengoperasikan total 24 unit intake yang tersebar di berbagai wilayah kabupaten. Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas distribusi air bersih di tengah kondisi teknis lapangan yang dinamis.
Direktur Teknik Perumdam TTB Kutai Timur, Galuh Boyo Munanto, ST., MT., merinci bahwa sebaran unit tersebut terdiri dari 12 unit Ponton, 5 unit Jembatan, 6 unit model Sumuran, serta 1 unit Bronkaptering.
”Penggunaan model ini disesuaikan dengan kondisi teknis di lapangan. Khusus untuk unit yang berpola ponton atau floating (terapung), posisinya relatif aman terhadap perubahan tinggi level sungai yang fluktuatif,” ujar Galuh.
Salah satu titik fokus adalah Intake Kudungga yang menggunakan model terapung. Teknologi ini memungkinkan alat pengambil air tetap beroperasi optimal mengikuti naik-turunnya muka air baku. Sementara itu, untuk tipe fixed atau sumuran, desain bangunan telah disesuaikan dengan data historis ketinggian air untuk memastikan keamanan instalasi.
Galuh menjelaskan bahwa evaluasi mendalam terus dilakukan, terutama berkaca pada peristiwa banjir ekstrem tahun 2022. Saat itu, dua unit intake terpaksa dihentikan operasionalnya (shutdown) selama 42 hingga 72 jam demi alasan keamanan teknis.
”Saat terjadi kondisi darurat seperti banjir, langkah pertama adalah mitigasi melalui suplai truk tangki air minum bagi warga. Kami juga mengimbau masyarakat untuk selalu memenuhi tandon cadangan di rumah masing-masing sebelum shutdown dilakukan,” tambahnya.
Selain terhentinya layanan selama hampir tiga hari, Perumdam TTB mencatat sejumlah dampak signifikan akibat cuaca ekstrem, di antaranya:
Kerugian Material: Biaya pembersihan fasilitas distribusi dan mulut intake dari endapan sedimen serta sampah sungai.
Penurunan Potential Income: Berkurangnya pendapatan perusahaan akibat terhentinya layanan distribusi.
Dampak Imaterial: Penurunan citra dan kinerja korporasi akibat kendala operasional yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dengan pengoptimalan 24 unit intake ini, Perumdam TTB berkomitmen untuk terus meningkatkan performa layanan dan meminimalisir risiko gangguan distribusi air bersih di wilayah Kutai Timur.(Am)


