Berita

Dua Dekade Merawat Wajah Investasi, Jejak Pengabdian dan Mimpi Saiful Ahmad untuk Kutai Timur

408
×

Dua Dekade Merawat Wajah Investasi, Jejak Pengabdian dan Mimpi Saiful Ahmad untuk Kutai Timur

Share this article
banner 468x60

​SANGATTA – Di koridor kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kutai Timur, nama Saiful Ahmad, S.T., M.Si. bukan sekadar deretan gelar di atas kertas. Bagi rekan sejawatnya, ia adalah saksi hidup—seorang rimbawan birokrasi yang telah merawat wajah investasi daerah selama lebih dari 20 tahun.

​Memulai karier dari bawah sebagai staf, Saiful telah melintasi berbagai zaman; dari dinginnya ruang arsip hingga panasnya dinamika lapangan. Pengabdian dua dekade ini membentuknya menjadi sosok yang tidak hanya hafal regulasi di luar kepala, tetapi juga memiliki kepekaan batin terhadap keresahan para pelaku usaha yang datang mencari kepastian hukum.

​Kemampuan manajerial Saiful bukan hanya teruji di balik meja dinas. Publik mungkin masih ingat hiruk-pikuk Porprov Kaltim 2018, sebuah hajatan olahraga kolosal yang melibatkan 45.000 atlet dan ofisial. Di balik suksesnya perhelatan yang tersebar di empat lokasi berbeda—Kutai Timur, Bontang, Samarinda, hingga Berau—ada tangan dingin Saiful yang menjabat sebagai Sekretaris Umum/Sekjen Panitia Besar.

​Kala itu, koordinasi adalah taruhannya. Di tengah keterbatasan bantuan anggaran dari provinsi, Saiful menjadi “dirigen” yang mengatur lalu lintas jalannya kegiatan agar tetap harmonis. Ketangguhannya mengelola krisis di tengah keterbatasan dana menjadi bukti nyata bahwa ia adalah administrator yang liat dan solutif.

​Salah satu tonggak sejarah yang paling lekat dengan namanya adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK). Sejak era Gubernur Awang Faroek Ishak hingga Bupati Ardiansyah Sulaiman, Saiful berdiri di garis depan sebagai Kepala Administrator.

​Ia mengawal proses panjang transisi Maloy, dari sekadar kawasan biasa hingga sah menyandang status KEK—satu-satunya di bumi Kalimantan. Puncaknya, dedikasi itu terbayar saat Presiden RI Joko Widodo meresmikan langsung kawasan ini pada tahun 2019. Baginya, Maloy bukan sekadar proyek, melainkan simbol masa depan ekonomi Kutai Timur.

​Karakter kepemimpinan Saiful yang tenang namun tegas tidak tumbuh dalam semalam. Jiwanya ditempa di “kawah candradimuka” organisasi kepemudaan dan sosial. Mulai dari Hipma-KT, HMI, KNPI, hingga Pemuda Muslimin Indonesia. Bahkan, sisi religiusitas dan intelektualitasnya terus terasah melalui perannya sebagai salah satu pimpinan majelis di organisasi Muhammadiyah Kutai Timur.

​Tak berhenti di situ, kepeduliannya pada kualitas manusia terpahat lewat perannya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Kutai Timur yang menaungi STIPER Kutim. “Birokrasi itu soal sistem, tapi pendidikan itu soal hati dan masa depan manusia,” ungkapnya tersirat dalam setiap langkah. Bagi Saiful, investasi terbaik sebuah daerah bukan hanya soal modal asing, melainkan kualitas manusia yang siap mengelolanya.

​Kini, dengan institutional memory yang sangat kuat, Saiful membidik amanah sebagai Kepala DPMPTSP bukan sekadar untuk mengejar jabatan. Ia ingin memastikan bahwa reformasi perizinan yang selama ini ia kawal sejak menjabat Kabid hingga Plt Kepala Dinas, benar-benar menyentuh garis finis: sebuah pelayanan yang transparan, cepat, dan tanpa sekat.

​Bagi Saiful, modernisasi digital hanyalah alat. Tujuan utamanya tetap satu: menjadikan DPMPTSP sebagai pintu yang selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin membangun ekonomi daerah, dengan integritas yang tetap terjaga rapat.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *