
Oleh: Sopiansyah
Hujan rintik-rintik mengguyur atap seng yang bolong-bolong. Di sebuah jalan sempit yang hanya cukup dilalui satu kendaraan, di sudut dusun yang baru saja tersentuh gemerlap lampu jalan, saya melangkah. Tugas kampus kali ini berbeda—bukan sekadar teori di ruang kelas, melainkan turun langsung menemui mereka yang selama ini hanya kita dengar sebagai “fakir miskin” dalam data statistik.
Aroma beton basah bercampur asap kayu bakar menyambut. Di ujung jalan Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, sebuah pintu kayu tua terbuka. Di sanalah, kehidupan yang nyata—kisah yang hampir punah dalam laporan tahunan pemerintah.
Rusmi, 65 tahun, duduk di karpet lantai yang sudah usang. Matanya sayu, tangannya keriput menggenggam erat foto usang almarhum suaminya. Di usia tuanya, dia mengalami mata buta sebelah, karena sudah tidak dapat dilakukan operasi. Tiga orang anaknya sudah berkeluarga. Praktis dia kini tinggal seorang diri.

Penghasilan tak menentu—kadang cukup untuk satu kali makan, kadang tidak sama sekali. “Hasil jualan kue Rp20-30 ribu per hari. Itu untuk makan,” katanya datar, seolah itu sudah biasa.
Di ruangan berukuran 4×8 meter itu, kini seorang diri tinggal. Rumah peninggalan Alm suami. Hanya Kasur, lemari , karpet tanpa Kursi. Dapur beratap terpal bocor, dan tungku sederhana di pojok ruangan. Tanpa jaminan, hanya hari esok yang tak pasti.
Di rumah lain, seorang ibu Col, 71 tahun, janda tua anak dua. Hidup dari bantuan keluarga. Ibu Col menempati rumah kayu pemberian pemerintah dari program bedah rumah. Tetapi tanpa penghasilan tetap, Ibu Col harus berusaha sendiri di usia senjanya.
Ibu Er, Janda 75 tahun, IRT. Hidup bersama anak dan mantu. Anak ibu Er bekerja sebagai Security di sub kontraktor perusahaan. Penghasilan sang anak tak begitu besar, dan harus dibagi bertiga, seringkali untuk makan sehari hari.
Sepanjang percakapan, saya hanya bisa terdiam. Apa yang bisa saya katakan pada seseorang yang mulai kehilangan segalanya, sementara saya masih bisa memilih menu makan malam?

Meski hidup dalam keprihatinan, ada satu hal yang tak pernah hilang dari ibu Rusmi, Ibu Col dan Ibu Er : harapan. Sederhana. Begitu sederhana, hingga kita yang mendengarnya menangis.
”Saya hanya ingin menghabiskan hari hari saya dengan bermanfaat, agar anak saya tidak seperti saya. Cukup saya yang susah,” ujar ibu Rusmi sambil matanya berkaca kaca.
Perjalanan pulang terasa berat. Langkah terasa tertahan. Di balik kaca mobil, gedung-gedung tinggi dan mall-mall megah berlalu. Tapi bayangan mereka—seorang ibu setengah buta yang tinggal di balik atap bocor itu—tak bisa pergi dari ingatan.
Mereka bukan angka. Mereka adalah manusia. Mereka adalah saudara kita.
Pemerintah menargetkan kemiskinan ekstrem nol persen. Tapi sebelum angka itu tercapai, kita tidak bisa tinggal diam. Kita tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi. Kita hanya perlu datang, melihat, dan bertindak.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
1. Datangi mereka. Bukan sekadar memberi, tapi mendengar cerita mereka.
2. Ajak orang lain. Satu orang mungkin tak cukup, tapi bersama kita bisa.
3. Salurkan bantuan yang tepat. Tanyakan apa yang benar-benar mereka butuhkan.
4. Sebarkan cerita ini. Biarkan lebih banyak orang tergerak.
”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Mari kita buktikan. Mulai dari sekarang.
Sopiansyah
2461201155
ITB-Ahmad Dahlan Jakarta
20 Juni 2026

