Berita

M. Harun dan Lentera Muda Kutai Timur: Menyalakan Pendidikan Anak dari Pelosok Desa

412
×

M. Harun dan Lentera Muda Kutai Timur: Menyalakan Pendidikan Anak dari Pelosok Desa

Share this article

SANGATTA SELATAN — Pendidikan anak usia dini tidak hanya tentang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Di tangan M. Harun, Ketua sekaligus pendiri Lembaga Lentera Muda Kutai Timur, pendidikan menjadi pintu masuk untuk membangun karakter, kreativitas, kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus menumbuhkan cita-cita anak sejak usia dini.

Gagasan tersebut diwujudkan melalui keberadaan TK Lentera Navayuga di Desa Teluk Singkama, Kecamatan Sangatta Selatan. Sekolah ini hadir membawa semangat bahwa anak-anak di wilayah desa juga berhak mendapatkan ruang pendidikan yang kreatif, menyenangkan, dan berkualitas.

Salah satu kegiatan yang menjadi gambaran nyata semangat tersebut adalah fashion show busana daur ulang yang melibatkan para siswa, guru, dan orang tua.

Bahan-bahan yang selama ini dianggap sebagai limbah rumah tangga, seperti kantong plastik warna-warni, koran bekas, kemasan makanan hingga kantong semen dan kemasan ulang, disulap menjadi busana kreatif berupa gaun dan pakaian adat.

Bagi M. Harun, kegiatan tersebut bukan sekadar perlombaan atau hiburan anak-anak.

“Kami ingin anak-anak belajar bahwa sesuatu yang dianggap sampah masih bisa memiliki nilai ketika kita kreatif. Dari kegiatan sederhana seperti ini, anak belajar mencintai lingkungan, berani tampil, percaya diri dan bekerja bersama orang tua serta guru,” demikian gagasan yang menjadi semangat kegiatan tersebut.

Guru Muda Membawa Cara Belajar yang Lebih Kreatif
Keberadaan guru-guru muda turut menjadi kekuatan TK Lentera Navayuga. Generasi muda pendidik membawa pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif, kreatif dan dekat dengan dunia anak.

Guru tidak hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga menjadi fasilitator yang mendorong anak untuk berkreasi dan berani menunjukkan kemampuan mereka.

Keterlibatan orang tua juga menjadi bagian penting. Melalui kegiatan seperti fashion show daur ulang, orang tua tidak hanya hadir sebagai pendamping, tetapi ikut terlibat dalam proses menciptakan karya bersama anak.

Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan anak usia dini tidak dapat berdiri sendiri. Sekolah, guru, orang tua dan lingkungan harus bergerak bersama membangun karakter anak.

Pendidikan sebagai Upaya Memutus Rantai Pernikahan Anak
Lebih jauh, M. Harun melihat pendidikan sebagai investasi jangka panjang bagi masyarakat desa.

TK Lentera Navayuga diarahkan tidak hanya menjadi tempat anak memperoleh pendidikan dasar, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya pendidikan berkelanjutan di masyarakat.

Di tengah tantangan sosial dan ekonomi yang masih dihadapi sebagian masyarakat, pendidikan diharapkan mampu membuka wawasan anak mengenai masa depan, cita-cita dan pentingnya melanjutkan pendidikan.

Karena itu, keberadaan pendidikan usia dini di Desa Teluk Singkama memiliki makna strategis. Anak-anak diperkenalkan sejak awal bahwa mereka memiliki banyak pilihan untuk meraih masa depan melalui pendidikan.

Semangat tersebut diharapkan secara perlahan dapat ikut mengikis praktik pernikahan pada usia anak, dengan membangun kesadaran bahwa masa kanak-kanak adalah masa untuk belajar, bermain, mengembangkan potensi dan mempersiapkan cita-cita.

Kreatif Tidak Harus Mahal
Salah satu pesan kuat dari kegiatan fashion show tersebut adalah bahwa pendidikan kreatif tidak selalu membutuhkan biaya besar.

Dengan memanfaatkan barang-barang bekas yang tersedia di lingkungan rumah, guru dan orang tua mampu menciptakan karya yang menarik dan bernilai edukatif.

Pendekatan ini sekaligus menjadi solusi bagi masyarakat dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Orang tua tidak harus mengeluarkan biaya besar untuk menghadirkan kegiatan yang meriah bagi anak.

Justru dari keterbatasan itulah muncul kreativitas.

Menyalakan Lentera dari Desa
Nama Lentera yang menjadi identitas lembaga tersebut memiliki semangat untuk menjadi penerang bagi generasi muda. M. Harun menggagas lembaga tersebut dengan keyakinan bahwa perubahan tidak harus selalu dimulai dari kota atau fasilitas pendidikan yang besar.

Perubahan dapat dimulai dari sebuah desa, dari sebuah ruang kelas sederhana, dari seorang guru yang kreatif, dari orang tua yang peduli, dan dari anak-anak yang berani bermimpi.

Keceriaan siswa-siswi TK Lentera Navayuga saat mengenakan busana hasil kreativitas mereka menjadi gambaran bahwa pendidikan di pelosok desa pun mampu menghadirkan ruang bagi anak untuk berimajinasi dan percaya diri.

Fashion show daur ulang akhirnya bukan hanya menjadi pertunjukan busana. Ia menjadi simbol kecil dari sebuah gerakan pendidikan: mengajarkan anak mencintai lingkungan, menghargai kreativitas, membangun kepercayaan diri, memperkuat peran orang tua, dan yang paling penting, menanamkan keyakinan bahwa setiap anak memiliki hak untuk bermimpi dan melanjutkan pendidikan.

Dari Desa Teluk Singkama, M. Harun bersama Lembaga Lentera Muda Kutai Timur berupaya menyalakan lentera pendidikan itu—agar semakin terang dan dapat menerangi masa depan anak-anak Kutai Timur.(Kw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *