
SANGATTA — Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Kutai Timur, Basuki Isnawan, menyimpulkan bahwa ajang Bupati Running Fest 2026 sukses melampaui target awalnya. Menurutnya, acara ini tidak sekadar menjadi wadah olahraga massal, tetapi telah bermetamorfosis menjadi penggerak signifikan bagi sektor pariwisata dan roda perekonomian kerakyatan di daerah tersebut.
Kesimpulan ini ditarik Basuki setelah melihat besarnya lonjakan perputaran uang selama acara berlangsung. Gelombang kedatangan pelari dari berbagai daerah terbukti memberikan napas segar bagi para pelaku usaha lokal.
”Dampaknya sangat nyata di lapangan. Tingkat hunian hotel melonjak hingga penuh, sementara para pedagang, pelaku UMKM, hingga mitra ojek online dan kurir turut mendulang rezeki dari acara ini,” terang Basuki.
Selain memacu sektor perdagangan dan jasa, Basuki mencatat bahwa kegiatan ini menjadi ajang promosi wisata tanpa biaya. Para peserta yang datang dari luar daerah menyempatkan diri mengeksplorasi Kutai Timur setelah menyelesaikan perlombaan. Berdasarkan testimoni yang ia terima, banyak pelari tamu yang memuji daya tarik destinasi wisata serta kelezatan kuliner khas Kutim.
Melihat tingginya antusiasme dan dampak positif tersebut, Basuki bersama Dispora Kutim langsung menyusun cetak biru untuk penyelenggaraan tahun berikutnya. Salah satu rencana terbesarnya adalah merespons arahan Bupati Ardiansyah Sulaiman untuk menaikkan level kompetisi ke kancah nasional, yakni dengan menghadirkan kategori Half Marathon (21 kilometer).
Meski demikian, sebagai penanggung jawab, Basuki memberikan catatan tegas terkait wacana ekspansi ini. Ia menyatakan bahwa jaminan keselamatan pelari adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.
”Keinginan untuk menggelar jarak 21 kilometer di tahun depan memang ada. Namun, realisasinya sangat bergantung pada hasil kajian keamanan dan keselamatan di lapangan,” tegasnya.
Jarak tempuh yang lebih ekstrem menuntut manajemen risiko yang jauh lebih kompleks. Basuki menyadari bahwa pihaknya harus merancang rekayasa lalu lintas yang presisi, memperbanyak titik penyediaan air minum (water station), hingga menyiagakan tenaga medis ekstra di sepanjang rute.
Pada akhirnya, bagi Basuki, transformasi Bupati Running Fest menjadi perhelatan berskala nasional hanyalah sebuah nilai tambah. Fondasi utama dari acara ini tetap tidak berubah.
”Target paling fundamental adalah melihat masyarakat kita bergerak aktif dan hidup sehat. Jika dari situ Kutai Timur menjadi lebih populer dan dikenal luas, itu adalah bonus yang patut kita syukuri bersama,” pungkasnya.(ADV/Diskominfo Kutim)

