Kutai TimurPemerintahan

RIPJPID Jadi Kompas Riset Kutai Timur, BRIDA Sinkronkan Inovasi dengan RPJMD

264
×

RIPJPID Jadi Kompas Riset Kutai Timur, BRIDA Sinkronkan Inovasi dengan RPJMD

Share this article

SANGATTA — Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menegaskan komitmennya untuk memastikan bahwa seluruh arah riset dan inovasi daerah dapat berjalan selaras dengan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Langkah strategis ini diwujudkan melalui penguatan Rencana Induk dan Peta Jalan Pemajuan IPTEK di Daerah (RIPJPID) yang kini resmi menjadi instrumen penting dalam perencanaan pembangunan wilayah.

Peneliti Ahli Pertama BRIDA Kutai Timur, Aveni Christy Keintjem, yang hadir mewakili Kepala BRIDA Kutim Juliansyah, mengungkapkan bahwa keberadaan RIPJPID memiliki peran krusial. Dokumen tersebut tidak hanya sekadar acuan ilmiah, melainkan telah diintegrasikan sebagai bahan pertimbangan utama dalam proses penyusunan dokumen RPJMD Kabupaten Kutai Timur ke depan.

“Tema-tema di dalam RIPJPID telah disinkronkan secara optimal dengan RPJMD, sehingga setiap riset maupun kajian ilmiah yang dilakukan oleh BRIDA benar-benar berorientasi pada kebutuhan nyata pembangunan daerah,” ujar Aveni saat memberikan keterangan resmi belum lama ini.

Dalam implementasinya, BRIDA Kutai Timur telah memetakan dua fokus utama yang menjadi poros penggerak riset, yakni Prioritas Permasalahan Daerah (PPD) serta Produk Unggulan Daerah (PUD). Melalui kerangka kerja ini, arah kebijakan riset di Kutai Timur diharapkan mampu memberikan solusi konkret atas berbagai tantangan lokal sekaligus mendongkrak potensi daya saing daerah.

Lebih lanjut, untuk pilar Prioritas Permasalahan Daerah, BRIDA menetapkan tiga isu strategis utama yang menjadi prioritas mendesak. Isu pertama adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar memiliki daya saing tinggi. Isu kedua berkaitan dengan mitigasi dan penanganan lingkungan yang berpotensi memicu bencana alam. Sementara itu, isu ketiga difokuskan pada penguatan infrastruktur penunjang pembangunan daerah.

Aveni juga memberikan catatan khusus terkait fokus infrastruktur yang tertuang dalam peta jalan riset tersebut. Menurutnya, pembangunan infrastruktur tidak boleh hanya dipandang dari sudut pandang fisik semata, seperti jalan atau gedung. Lebih dari itu, cakupan infrastruktur juga harus menyentuh sektor-sektor esensial bagi kesejahteraan masyarakat, seperti peningkatan kualitas pendidikan, fasilitas kesehatan, serta efektivitas pelayanan publik.

Dengan pendekatan yang komprehensif ini, BRIDA Kutai Timur optimistis bahwa setiap riset dan inovasi yang dihasilkan ke depannya tidak hanya berhenti di atas kertas, melainkan mampu menjawab berbagai tantangan strategis secara menyeluruh dan berkelanjutan demi kemajuan masyarakat Kutai Timur. (ADV/Diskominfo Kutim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *