Berita

Kala Adat, Ormas, Perusahaan, dan Negara Duduk Bersama: Merawat Hutan dan Marwah Tanah Kutai

233
×

Kala Adat, Ormas, Perusahaan, dan Negara Duduk Bersama: Merawat Hutan dan Marwah Tanah Kutai

Share this article

​SANGATTA — Sebuah momen bersejarah dan penuh makna tercipta di kawasan petilasan keramat leluhur Kutai. Berbagai elemen penyokong kehidupan sosial dan bernegara berkumpul, membaur menjadi satu dalam sebuah komitmen bersama untuk menjaga kelestarian alam dan budaya.

​Rombongan besar yang hadir hari itu bukan sekadar melakukan kunjungan biasa. Dipimpin langsung oleh para Sesepuh dan Pemangku Adat Kutai, rombongan ini turut didampingi oleh para Ketua Organisasi Masyarakat (Ormas) Bubuhan Kutai, perwakilan pihak perusahaan, serta mendapat pengawalan penuh hormat dari prajurit TNI Angkatan Laut (Lanal).

​Suasana di petilasan terasa hangat dan sakral. Segala sekat birokrasi, seragam, maupun kepentingan seolah runtuh. Pertemuan dibuka dengan doa adat oleh para Sesepuh Kutai, diiringi sikap menunduk khidmat dari para ketua ormas. Pihak perusahaan, yang selama ini lebih akrab dengan peta konsesi, hari itu diajak belajar membaca ‘peta leluhur’. Sementara itu, Lanal yang terbiasa menjaga kedaulatan laut, hari itu hadir menjaga marwah kedaulatan di darat.

​“Inilah Kutai yang sebenarnya. Jika Adat, Ormas, Perusahaan, dan Negara bisa duduk bersama di tanah leluhur, maka hutan ini tidak akan pernah hilang. Karena dijaga bukan dengan pagar, tapi dengan kebersamaan,” ucap salah satu Pemangku Adat tertua dengan nada pelan namun tegas.

​Ketua Umum LKTPA, Burhanudin, menegaskan bahwa kunjungan ini membawa semangat religius dan persatuan, jauh dari kesan ritual mistis yang menyimpang.

​“Kami tidak membakar kemenyan. Kami berselawat. Kami tidak meminta kesaktian. Kami memohon keselamatan untuk hutan dari Karhutla, untuk Sangatta dari perpecahan, dan untuk Kutai agar tetap beradat dan beradab,” tegas Burhanudin.

​Lebih lanjut, Burhanudin menyoroti pentingnya mengubah stigma masyarakat terhadap kawasan-kawasan adat dan petilasan leluhur. Menurutnya, tempat tersebut adalah ruang sosial kuno yang fungsi musyawarahnya harus kembali dihidupkan.

​“Kunjungan ini menjadi bukti: petilasan bukan tempat mistis yang harus ditakuti. Ini adalah ruang musyawarah tertua di kampong ini. Tempat di mana semua pihak kembali diingatkan, bahwa di atas izin tambang, di atas seragam ormas, dan di atas pangkat negara, ada jejak leluhur yang harus dihormati,” tambahnya.

​Pertemuan di tanah leluhur ini tidak sekadar berakhir sebagai seremoni atau ajang berfoto ria. Seluruh pihak yang hadir pulang membawa satu visi baru yang lebih mengakar demi kelestarian alam dan budaya di Kutai.

​“Pulang dari sana, kami tidak hanya membawa foto bersama. Kami membawa komitmen baru—Masyarakat Adat Peduli, Perusahaan Peduli, dan Negara Hadir. Adat Dijaga, Hutan Selamat, Kutai Bermartabat,” pungkas Burhanudin.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *