
Aceh – Kehadiran Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang membawa ratusan paket perlengkapan sekolah hasil sumbangsih masyarakat, pelajar, relawan, hingga pihak swasta Kutai Timur, disambut dengan antusias dan haru di Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur.
Bukan hanya para pelajar dan guru, sambutan hangat juga datang dari para relawan yang masih berjibaku memulihkan kondisi pascabencana di dua daerah tersebut.
Suasana haru terasa kental saat rombongan PMI Kutim tiba di SMAN 1 Manyak Payed, Aceh Tamiang. Kepala sekolah, Nur Hartati, tak kuasa menahan air mata ketika menyambut rombongan dan mengajak berkeliling melihat kondisi bangunan sekolah yang masih menyisakan jejak bencana.
Ia menceritakan bagaimana banjir bandang yang terjadi pada akhir November tahun lalu nyaris menenggelamkan seluruh bangunan sekolah. Air bercampur lumpur merendam ruang kelas, menghancurkan perabot, buku, dan berbagai fasilitas penunjang pembelajaran.
“Air dan lumpur hampir menutup seluruh sekolah. Banyak peralatan dan buku yang tidak bisa diselamatkan,” kenangnya dengan suara bergetar.
Setelah hampir sebulan melakukan pembersihan bersama berbagai pihak, aktivitas belajar mengajar kini mulai berangsur berjalan, meski belum sepenuhnya normal. Salah satu kendala utama adalah hilangnya perlengkapan sekolah milik para siswa yang ikut hanyut diterjang banjir.
Nur Hartati menyebut, bantuan paket perlengkapan sekolah dari masyarakat Kutai Timur menjadi penguat semangat bagi para pelajar Aceh, sekaligus bukti bahwa mereka tidak sendirian menghadapi musibah.
“Terima kasih sebesar-besarnya kepada PMI dan masyarakat Kutai Timur. Bantuan ini sangat membantu anak-anak kami agar bisa kembali belajar dan tetap semangat. Mereka tidak sendiri dalam menghadapi bencana ini,” ucapnya sambil berkaca-kaca.
Ungkapan serupa juga disampaikan Aisiyah, Kepala SDN Tanah Rata, serta Nur Lita, Kepala MAN 2 Aceh Timur, Kecamatan Peureulak. Mereka menuturkan bahwa banjir melanda hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat, mulai dari sawah, rumah, hingga sekolah.
“Kalau musibah tidak bisa dilawan. Kami hanya bisa menangis, semuanya hilang. Anak-anak sampai harus mengungsi,” ujar Aisiyah.
Setelah air surut, para wali murid bersama relawan bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah dan ruang kelas selama berhari-hari. Namun, banyak perabot, buku, dan alat belajar yang rusak dan tak lagi bisa digunakan.
Bantuan perlengkapan sekolah untuk 196 pelajar SDN Tanah Rata pun disambut penuh rasa syukur.
“Alhamdulillah, bantuan ini sudah kami terima. Terima kasih kepada masyarakat dan adik-adik di Kutai Timur yang telah menyumbang untuk anak-anak kami,” tutur Aisiyah.
Sementara itu, Kepala MAN 2 Aceh Timur, Nur Lita, menyebut bantuan tersebut sangat berarti bagi para siswa.
“Anak-anak kami sangat membutuhkan bantuan ini. Kami bersyukur kepada Allah SWT dan yakin mereka sangat bahagia. Amanah ini akan kami gunakan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Rasa syukur juga diungkapkan langsung oleh para pelajar. Mereka mengaku kehilangan hampir seluruh perlengkapan sekolah, bahkan seragam, akibat banjir yang datang tiba-tiba. Saat ini, sebagian siswa masih bersekolah dengan pakaian seadanya dan menggunakan sandal.
“Rumah ada yang tenggelam, ada juga yang hanyut. Buku, baju, sepatu sekolah habis semua,” kenang Muhammad Aska, siswa kelas VII SMPN 1 Manyak Payed.
“Bantuan ini sangat membantu kami. Terima kasih kepada teman-teman dari Kutai Timur. Semoga dibalas oleh Allah SWT,” ujar Raziansyah, siswa kelas XI B SMAN 1 Manyak Payed.
Diketahui, rombongan PMI Kutim dipimpin langsung oleh Ketua PMI Kutim H. Kasmidi Bulang, didampingi Sekretaris PMI Kutim Wilhelmus Wio Doi dan staf Efvilia Novitasari. Turut serta pula perwakilan pelajar Kutai Timur, yakni Marvel Octavian Marampa dari SMP YPPS dan Jamilah, siswi SMAN 2 Sandaran.
Dalam kegiatan tersebut, PMI Kutim menyalurkan 700 paket perlengkapan sekolah, dengan rincian: 150 paket untuk SMAN 1 Manyak Payed, 197 paket untuk SMPN 1 Manyak Payed, 157 paket untuk MAN 2 Aceh Timur, dan 196 paket untuk SDN Tanah Rata.(*)


