Berita

Jaringan Irigasi Mandek: Ketahanan Pangan Kutim Terancam, DPRD Pertaruhkan Harapan pada Lobi Anggaran Pusat

433
×

Jaringan Irigasi Mandek: Ketahanan Pangan Kutim Terancam, DPRD Pertaruhkan Harapan pada Lobi Anggaran Pusat

Share this article

SANGATTA – Isu ketahanan pangan di Kutai Timur (Kutim) kini berada dalam posisi rentan, bukan karena kurangnya lahan atau semangat petani, melainkan akibat keterbatasan infrastruktur air yang krusial. Lahan pertanian di beberapa kecamatan dilaporkan tidak dapat beroperasi secara produktif dan konsisten, memaksa petani lokal berada dalam posisi yang sangat lemah terhadap perubahan cuaca dan dinamika pasar.

Krisis ini secara tegas disoroti oleh H. Bahcok Riandi, Wakil Ketua Komisi C Bidang Pembangunan DPRD Kutim. Ia menggarisbawahi bahwa tanpa adanya percepatan pembangunan daerah irigasi dan bendungan, konsep ketahanan pangan lokal hanya akan menjadi ilusi.

Pembangunan infrastruktur air ini vital. Tanpa itu, petani tidak bisa menanam secara konsisten, dan keberlanjutan pangan lokal kita sangat rentan. Kita tidak bisa bicara kemandirian pangan jika air saja tidak terjamin,” tegas Bahcok, menekankan bahwa irigasi adalah prasyarat dasar pertanian.

Permasalahan terbesar yang dihadapi Kutim adalah faktor pembiayaan. Bahcok menjelaskan bahwa proyek-proyek pembangunan irigasi yang telah diusulkan oleh pemerintah daerah seringkali terganjal di tingkat pusat karena besarnya kebutuhan anggaran yang tidak mampu ditanggung oleh APBD semata.

Situasi ini menempatkan Komisi C DPRD Kutim pada peran strategis sebagai juru lobi. Komisi tersebut berkomitmen untuk terus-menerus melobi kementerian terkait di tingkat nasional agar program pembangunan infrastruktur air Kutim dapat segera masuk dalam daftar prioritas nasional (PSN) dan mendapatkan alokasi dana dari APBN.

Kemandirian pangan, menurutnya, tidak akan tercapai hanya melalui program bantuan atau subsidi yang bersifat sementara. Solusi harus dimulai dari sistem pengelolaan air yang terencana, terstruktur, dan didukung oleh infrastruktur permanen.

Kegagalan dalam membangun infrastruktur air yang memadai memiliki dampak langsung dan merusak pada kehidupan petani. H. Bahcok Riandi menggambarkan kondisi petani Kutim saat ini yang terus menerus berada dalam bayang-bayang ketidakpastian:

  1. Kalah oleh Cuaca: Keterbatasan irigasi membuat petani sangat bergantung pada curah hujan, sehingga jadwal tanam sering tidak tepat atau gagal panen saat musim kemarau tiba.
  2. Kalah oleh Pasar: Pola tanam yang tidak konsisten dan tidak terkoordinasi menyebabkan hasil panen sulit memenuhi permintaan pasar secara stabil, membuat posisi tawar petani menjadi lemah.

“Air adalah kunci kehidupan pertanian. Kalau irigasi tidak dibangun, petani akan terus kalah oleh cuaca dan tekanan harga pasar,” ujarnya keras, menuntut agar pemerintah pusat tidak lagi menunda kebijakan pembangunan infrastruktur air di Kutim.

Dengan potensi pertanian yang mampu menopang kebutuhan pangan regional, Kutim berharap lobi yang dilakukan oleh DPRD dapat segera membuahkan hasil. Pembangunan bendungan dan jaringan irigasi yang selama ini dinanti-nantikan adalah harapan terakhir bagi petani untuk bangkit dan menjadikan Kutim sebagai pilar ketahanan pangan di Kalimantan Timur.(Adv/DPRD)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *