Berita

Mengembalikan Adab Pelajar di Tengah Perubahan Zaman

408
×

Mengembalikan Adab Pelajar di Tengah Perubahan Zaman

Share this article

Oleh: Padliyansyah, A.Ma.Pd.SD., S.E.

Fenomena menurunnya adab pelajar terhadap pendidik belakangan ini menjadi perhatian serius di berbagai kalangan. Kita menyaksikan gejala yang dahulu dianggap tabu, seperti berbicara tidak sopan kepada guru, mengabaikan etika di ruang kelas, hingga menurunnya rasa hormat terhadap figur pendidik. Pertanyaannya, apakah hal ini semata-mata kesalahan generasi muda, atau justru cerminan dari perubahan sistem pendidikan dan lingkungan sosial yang lebih luas?

Jika menengok ke belakang, pada masa Sekolah Pendidikan Guru (SPG), pendidikan tidak hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan adab. Guru tidak sekadar menjadi pengajar, melainkan sosok teladan yang dihormati. Nilai-nilai seperti disiplin, sopan santun, dan etika sosial ditanamkan secara konsisten, baik di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Kini, lanskap pendidikan mengalami pergeseran. Orientasi keberhasilan sering kali diukur dari capaian akademik, nilai ujian, dan kompetensi kognitif. Sementara itu, pendidikan karakter kerap menjadi pelengkap, bukan fondasi utama. Di sisi lain, perkembangan teknologi dan media sosial turut membentuk pola komunikasi generasi muda yang lebih bebas, instan, dan terkadang mengabaikan norma kesopanan.

Namun, menyederhanakan persoalan ini sebagai menurunnya semangat guru tentu tidaklah adil. Banyak pendidik pada masa kini tetap memiliki dedikasi tinggi, bahkan harus bekerja lebih keras di tengah tantangan yang semakin kompleks. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menghadapi perubahan karakter siswa, keterbatasan peran keluarga, serta dinamika kebijakan yang terkadang membatasi ruang pembinaan disiplin.

Masalah ini sesungguhnya merupakan persoalan kolektif. Keluarga sebagai lingkungan pertama justru memegang peran paling mendasar dalam menanamkan nilai-nilai adab. Ketika pembiasaan sopan santun tidak terbentuk sejak dini di rumah, sekolah akan menghadapi beban yang jauh lebih berat. Di sisi lain, masyarakat juga turut berperan dalam membentuk budaya sosial. Ketika perilaku tidak sopan dianggap lumrah atau bahkan ditoleransi, nilai-nilai etika akan semakin tergerus.

Lalu, apa yang harus dilakukan?
Pertama, penguatan pendidikan karakter harus kembali menjadi arus utama dalam sistem pendidikan. Nilai-nilai adab tidak cukup diajarkan sebagai teori, tetapi harus dihidupkan dalam praktik sehari-hari di sekolah. Kedua, keluarga perlu kembali mengambil peran strategis sebagai tempat pertama pembentukan moral dan etika. Keteladanan orang tua menjadi kunci utama. Ketiga, pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang seimbang, tidak hanya menekankan capaian akademik, tetapi juga memberi ruang bagi pembinaan karakter yang kuat. Keempat, masyarakat perlu membangun kembali budaya menghormati guru dan menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan.
Mengembalikan adab pelajar bukan berarti kita harus kembali sepenuhnya ke masa lalu.

Namun, nilai-nilai luhur yang pernah menjadi kekuatan pendidikan, seperti keteladanan, penghormatan terhadap guru, dan pembinaan karakter, perlu dihidupkan kembali dalam konteks zaman yang terus berubah.
Pada akhirnya, pendidikan sejati bukan hanya melahirkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang beradab. Sebab, ilmu tanpa adab berpotensi melahirkan kecerdasan yang kehilangan arah. Di situlah tantangan sekaligus tanggung jawab kita bersama: memastikan bahwa kemajuan zaman tidak menggerus nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *