
SAMARINDA – Proses penyusunan kepengurusan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Timur masa bakti 2026–2030 tengah menjadi perhatian sejumlah cabang olahraga (cabor). Hal ini menyusul beredarnya informasi mengenai susunan pengurus yang disebut-sebut belum mengakomodasi beberapa cabor pendukung dalam pemilihan Ketua Umum KONI Kaltim beberapa waktu lalu.
Informasi yang sempat beredar di publik menyebutkan sejumlah cabang olahraga, seperti Kempo, Woodball, Wushu, Ski, dan Kabaddi, belum tercantum dalam struktur kepengurusan KONI Kaltim periode 2026–2030. Kondisi tersebut memunculkan berbagai tanggapan dari insan olahraga yang berharap seluruh elemen pendukung dapat memperoleh ruang representasi yang proporsional dalam kepengurusan mendatang.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Pengprov Woodball Kalimantan Timur, H. Hasbar, mengaku telah melakukan komunikasi langsung dengan salah satu anggota Tim Formatur untuk meminta penjelasan terkait informasi yang beredar.
Dari hasil klarifikasi tersebut, diperoleh penjelasan bahwa susunan kepengurusan yang saat ini beredar di masyarakat belum merupakan struktur final. Tim Formatur masih melakukan pembahasan, penyelarasan, dan pengakomodasian berbagai usulan yang masuk dari cabang olahraga, KONI kabupaten/kota, maupun unsur-unsur terkait lainnya.
“Struktur yang beredar saat ini masih bersifat dinamis dan belum ditetapkan secara resmi. Proses penyusunan masih berlangsung dan berbagai masukan masih dibahas oleh Tim Formatur,” ungkap Hasbar, mengutip penjelasan yang diterimanya.
Karena itu, daftar nama yang beredar di publik belum dapat dijadikan acuan resmi hingga adanya keputusan dan pengesahan dari Ketua Umum KONI Kaltim terpilih bersama Tim Formatur.
Sebelumnya, dinamika penyusunan kepengurusan KONI Kaltim juga sempat menjadi sorotan setelah muncul informasi mengenai rapat Tim Formatur yang berlangsung cukup alot. Dalam proses pembahasan tersebut, sejumlah perbedaan pandangan terkait komposisi kepengurusan disebut masih terjadi sehingga rapat belum menghasilkan keputusan final.
Bahkan, berdasarkan informasi yang berkembang, forum sempat mengalami kebuntuan (deadlock) sehingga pembahasan kepengurusan harus dilanjutkan pada agenda berikutnya guna mencari titik temu yang dapat mengakomodasi berbagai kepentingan dan aspirasi olahraga di Kalimantan Timur.
Di tengah proses tersebut, berbagai pihak berharap Tim Formatur dapat mengedepankan prinsip profesionalisme, keterwakilan, kompetensi, serta rekam jejak pengabdian terhadap pembinaan olahraga prestasi. Langkah itu dinilai penting untuk memperkuat soliditas organisasi sekaligus menghadapi berbagai agenda olahraga strategis di tingkat regional maupun nasional.
Hingga saat ini, KONI Kalimantan Timur belum mengumumkan secara resmi susunan lengkap kepengurusan periode 2026–2030. Oleh sebab itu, seluruh nama yang beredar masih berpotensi mengalami perubahan sesuai hasil pembahasan dan keputusan akhir Tim Formatur sebelum dilakukan pengesahan.(*)

