Berita

Kedepankan Diskusi Ketimbang Aksi, GPII Balikpapan Siap Beri Masukan Konstruktif untuk Pemerintah

383
×

Kedepankan Diskusi Ketimbang Aksi, GPII Balikpapan Siap Beri Masukan Konstruktif untuk Pemerintah

Share this article

​BALIKPAPAN – Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Kota Balikpapan mengambil langkah berbeda di tengah maraknya aksi unjuk rasa mahasiswa di berbagai wilayah saat ini.
​Alih-alih turun ke jalan untuk menyuarakan kritik, organisasi kepemudaan ini lebih memilih membuka ruang rembuk yang sehat demi mengawal jalannya roda pemerintahan.

​Ketua GPII Kota Balikpapan, Lukman, menegaskan bahwa setiap kelompok masyarakat memiliki metode tersendiri dalam menyampaikan aspirasi. Bagi GPII Balikpapan, evaluasi terhadap kebijakan publik tidak melulu harus disuarakan lewat demonstrasi.

​”Kami lebih menitikberatkan pada dialog kritis yang mampu menghasilkan jalan keluar konkret,” ujar Lukman.

​”Kami tetap menghargai rekan-rekan mahasiswa yang memilih berdemo. Namun, jalur yang diambil GPII Balikpapan adalah lewat diskusi, bedah kajian, dan dialog,” tambahnya.

​Sebagai langkah nyata, GPII Balikpapan berencana menyelenggarakan forum diskusi pada awal Juli mendatang. Agenda ini dirancang dengan melibatkan berbagai elemen penting di masyarakat.

​Mulai dari kalangan akademisi, praktisi usaha, tokoh masyarakat, hingga jajaran pembuat kebijakan dipastikan akan hadir dalam forum tersebut.

​Tujuan utama dari agenda ini adalah mengupas tuntas isu-isu krusial terkait program kerja pemerintah serta dinamika pembangunan nasional secara objektif.

​Lukman berharap wadah ini bisa menjadi sarana edukasi berbasis data bagi masyarakat luas, sekaligus memberikan masukan yang seimbang.

​Salah satu topik utama yang akan dibahas secara mendalam dalam forum tersebut adalah situasi ekonomi makro. Secara khusus, mereka akan menyoroti dampak dari implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

​Lukman memandang program berskala nasional ini punya potensi besar untuk mendongkrak perekonomian daerah jika dieksekusi dengan tepat. Menurutnya, program ini tidak sekadar memperbaiki nutrisi generasi penerus.
​”MBG bukan hanya program pemenuhan gizi, tetapi juga memiliki efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian,” jelas Lukman.

​Ia menambahkan, program ini berpeluang menghidupkan sektor UMKM, menciptakan perputaran uang baru di tingkat daerah, serta meningkatkan permintaan terhadap komoditas pertanian, peternakan, dan perikanan.

​Kendati mendukung, GPII Balikpapan tetap memberikan catatan kritis terkait tata kelola MBG. Lukman menilai indikator kesuksesan program ini tidak boleh hanya dilihat dari angka penerima manfaat.

​Lebih dari itu, kesuksesannya diukur dari sejauh mana program tersebut mampu melibatkan ekosistem bisnis lokal dalam rantai pasoknya.
​”Rantai pasok yang sehat baru akan tercipta jika pelaku usaha lokal dilibatkan langsung sebagai pemasok bahan baku,” jabarnya.

​Jika hal itu berjalan, petani dan nelayan akan punya kepastian pasar, omzet pengusaha daerah akan naik, dan daya beli masyarakat otomatis terangkat.

​Melalui rangkaian diskusi ini, GPII Balikpapan berharap bisa melahirkan gagasan-gagasan produktif sekaligus menjalankan fungsi kontrol sosial.

​Lukman menutup dengan menegaskan bahwa mengawal negara lewat sumbangsih pemikiran dan dialog ilmiah adalah tanggung jawab moral pemuda dalam mengawal pembangunan bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *