Berita

Dari Hobi Jadi Ekonomi: Festival Pemuda Kreatif 2025 Dorong Kutim Bangun Ekosistem Industri Kreatif Lokal

429
×

Dari Hobi Jadi Ekonomi: Festival Pemuda Kreatif 2025 Dorong Kutim Bangun Ekosistem Industri Kreatif Lokal

Share this article

SANGATTA— Malam di Alun-alun Bukit Pelangi terasa berbeda. Lampu-lampu berwarna menyoroti panggung utama, di mana musik, tarian tradisional, dan parade kostum modern berpadu dalam satu ruang energi anak muda. Di balik keceriaan itu, terselip pesan penting: Kutai Timur sedang menata ulang masa depan ekonominya melalui ekosistem kreatif generasi muda.

Momentum tersebut terwujud dalam Festival Pemuda Kreatif 2025, ajang yang diinisiasi oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutim, dan dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, Kamis (7/11/2025) malam.

Bagi Pemkab Kutim, festival ini bukan sekadar pesta hiburan tahunan. Ia adalah laboratorium ide dan inovasi tempat anak muda mengekspresikan diri, berkolaborasi, dan memperkenalkan produk ekonomi kreatif berbasis lokalitas.

“Kita hadir bukan hanya untuk memberi panggung hiburan, tapi ruang bagi anak muda membuktikan bahwa kreativitas bisa jadi kekuatan ekonomi baru Kutai Timur,” ujar Mahyunadi dalam sambutannya.

Wakil Bupati menegaskan, Pemkab Kutim kini menaruh perhatian serius pada sektor kreatif yang diyakini dapat membuka lapangan kerja baru dan memperluas peluang wirausaha muda. Ia menyebut, inisiatif seperti festival ini merupakan investasi sosial jangka panjang untuk menumbuhkan ekosistem wirausaha kreatif yang mandiri.

“Banyak anak muda punya potensi luar biasa, tapi belum punya ruang. Melalui kegiatan seperti ini, keresahan mereka soal masa depan bisa diubah menjadi karya dan solusi,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dispora Kutim, Basuki Isnawan, menjelaskan bahwa kesuksesan penyelenggaraan Festival Pemuda Kreatif tak lepas dari kolaborasi sehat antara pemerintah dan pelaku usaha lokal.

Basuki menyoroti peran Sans Organizer, event organizer asal Kutai Timur, yang dipercaya mengeksekusi acara besar ini dengan profesional.

“Kami ingin menunjukkan bahwa anak muda Kutim mampu menyelenggarakan event berkelas tanpa harus bergantung pada pihak luar,” ujarnya.

Festival yang berlangsung hingga Minggu (9/11/2025) ini menjadi ajang pertemuan antara komunitas kreatif, pelaku UMKM, dan seniman muda. Sebanyak 58 tenan hadir menampilkan produk-produk khas daerah, mulai dari kuliner lokal, fashion etnik, hingga hasil kerajinan tangan yang dikemas modern.

Hari pertama berlangsung meriah dengan penampilan Tari Tradisional oleh Forum Daerah Tari (FDT), parade cosplay, serta panggung musik K-pop cover oleh Mr. Dance dan Black Spider Band. Antusiasme masyarakat membuktikan bahwa sektor kreatif mampu menjadi ruang interaksi lintas generasi.

Pada hari kedua, festival akan fokus pada aktivitas komunitas seperti sharing session kewirausahaan, lokakarya konten digital, hingga gowes bersama komunitas sepeda. Puncak acara pada hari Minggu akan menghadirkan penampilan artis nasional dari Jakarta, yang diharapkan menarik lebih banyak pengunjung.

Bagi Pemkab Kutim, festival ini merupakan bagian dari strategi besar menghidupkan ekonomi non-migas berbasis kreativitas dan budaya. Daerah yang selama ini identik dengan pertambangan dan perkebunan kini mulai melirik potensi baru dari sektor yang digerakkan generasi muda.

“Kalau ide-ide anak muda diberi ruang, mereka bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa — bukan hanya karya seni, tapi juga peluang ekonomi,” ujar Basuki.

Pemerintah berencana menindaklanjuti kegiatan ini dengan program pendampingan dan inkubasi usaha kreatif, agar para peserta festival tidak berhenti pada ajang pameran, melainkan tumbuh menjadi pelaku ekonomi produktif.

Festival Pemuda Kreatif 2025 bukan sekadar ajang hiburan tahunan. Ia menjadi simbol kebangkitan gerakan kreatif lokal yang lahir dari semangat kolaborasi dan optimisme generasi muda.

Dengan dukungan penuh pemerintah daerah, Kutai Timur kini mulai memetakan masa depan barunya — sebuah daerah yang tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga kaya gagasan dan inovasi.

“Inilah wajah baru Kutai Timur — muda, kreatif, dan percaya diri menghadapi masa depan,” tutup Mahyunadi dengan optimis.(Adv/Hms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *