
KUTAI TIMUR — Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, H. Pangeran Hario Noto Negoro, S.E., M.Si., CGCAE., menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya prosesi Erau Adat Pelas Benua di Kutai Timur pada tahun 2026.
Pelaksanaan Erau kali ini dinilai istimewa karena didampingi langsung oleh pihak Kesultanan. Pendampingan ini bertujuan memastikan seluruh rangkaian adat berjalan sesuai pakem Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang berlandaskan hukum adat Undang-Undang Panji Selaten dan Beraja Niti.
Menurut H. Pangeran Hario Noto Negoro, istilah “Erau” berasal dari kata “eroh” yang bermakna riang gembira. “Erau ini pada hakikatnya mempertemukan antara rakyat dengan pemimpinnya,” jelasnya.

Meskipun berakar pada tradisi yang sama, terdapat sejumlah perbedaan pakem antara Erau di Kutai Timur dan di pusat Kesultanan (Kukar).
Di Kutai Kartanegara, setiap Sultan bertakhta diharuskan menggelar prosesi “beluluh” pada sore hari dan “bepelas” pada malam hari selama tujuh hari berturut-turut. Prosesi bepelas dipimpin oleh para dewa dan belian, serta ditandai dengan dentuman meriam. Selain itu, Kesultanan juga melaksanakan prosesi Napak Tilas Putri Karang Melenu yang diwarnai dengan pelarungan sepasang naga ke Sungai Mahakam menuju Desa Kutai Lama.
Di samping menjaga kelestarian tradisi, pemerintah dan Kesultanan menaruh perhatian besar pada regenerasi budaya. Anak-anak sengaja dilibatkan dalam prosesi adat agar mereka dapat mengenal, mencintai, dan menginternalisasi warisan leluhur. “Di tangan merekalah kelak masa depan wilayah ini akan dipegang,” ujar H. Pangeran Hario Noto Negoro.

Sebagai langkah nyata pelestarian bahasa daerah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara telah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) yang menetapkan Bahasa Kutai sebagai muatan lokal di sekolah. Saat ini, fokus pemerintah adalah meningkatkan kuantitas dan kualitas tenaga pendidik agar pengajaran bahasa daerah dapat berjalan maksimal.
Dalam hal pembinaan seniman, Pemkab Kukar melalui visi misi “Kukar Idaman” mengupayakan pemberian insentif bagi komunitas seni. Program ini telah terintegrasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), meskipun pelaksanaannya saat ini masih disesuaikan dengan kebijakan efisiensi anggaran.
Besarnya perhatian terhadap kebudayaan ini tidak terlepas dari tingginya potensi pariwisata Kutai. Erau telah masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN) sebagai Program Strategis Nasional (PSN) yang menyumbang devisa negara, dengan rekor kunjungan mencapai 700 ribu orang. Meski demikian, H. Pangeran Hario Noto Negoro menekankan pentingnya peningkatan integrasi sistem transportasi dan dukungan infrastruktur pariwisata agar wisatawan mendapatkan pengalaman pariwisata yang lebih utuh.
Ke depan, ia berharap budaya Kutai dapat tumbuh menjadi ekosistem yang hidup berdampingan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN). Secara historis, sebagian besar wilayah IKN dan Penajam Paser Utara (PPU) merupakan wilayah adat Kesultanan Kutai Kartanegara.
”Harapannya, budaya ini tidak hanya sekadar pagelaran seni, tetapi bisa menjadi sebuah ekosistem budaya,” ungkapnya.
Dengan terciptanya ekosistem tersebut, diharapkan sektor UMKM, perhotelan, pertanian, hingga ekonomi kreatif dapat tumbuh berkesinambungan dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat luas, serupa dengan keberhasilan ekosistem pariwisata budaya di Bali. (Kw)

