
Beberapa orang menghabiskan waktunya untuk mengabdi pada kepentingan rakyatnya. Beberapa orang juga menghabiskan usianya untuk mengekang rakyatnya demi kepentingannya pribadi. Dan sebagiannya lagi menghabiskan hidupnya di istana untuk mengabdi pada Raja-rajanya. Benar bahwa berbagai kepentingan setiap orang adalah hak dan pilihannya. Termasuk memilih seorang pemimin untuk suatu bangsa, dengan perjanjian yang sakral untuk mencapai suatu misi sebagaimana harapan para pendiri bangsa. Atau sebagaimana misi Undang-undang Dasar 1945 ; “Cerdaskan kehidupan bangsa dan sejahterakan fakir miskin.” Tetapi sudahkah semua itu terlaksana.? Semenjak bangsa ini mendapatkan kemerdekaanya sebagai negara.?
Kita tahu bahwa problem sosial yang tak menemukan muara, pembodohan massal yang menggeroti suatu bangsa dan persoalan saling bunuh-membunuh, datang dari satu manusia yang tidak menggunakan akalnya dengan baik, atau lahir dari satu orang mempertuhankan egonya sendiri. Barangkali itulah tujuan mengapa Pendidikan itu sangat penting, Dimana Pendidikan tidak hanya diperuntukkan untuk mendidik ketajaman akal pikiran tetapi juga untuk mendidik jiwa, demi berkembang dan majunya suatu bangsa, atau setidaknya menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia.
Tetapi kerap kali Pendidikan justru diasingkan dan ditempatkan pada sebuah ruang gelap tanpa Cahaya. Hingga waktu menimbunnya dengan sebuah kekosongan yang tak bermakna. Bahkan yang lebih miris adalah Pendidikan yang seharusnya menjadi ladang untuk menghasilkan bibit yang unggul, justru dijadikan pasar gelap kapitalisme, justru menjadi sarang para mafia. Pendidikan yang seharusnya menjadi taman yang indah untuk belajar justru dijadikan alat untuk menciptakan pembodohan. Dan kita tahu dari Sejarah peradaban manusia bahwa kekuasaan kerap kali dengan sengaja mendidik rakyatnya menjadi bodoh demi mempertahankan kekuasaanya.
Dan apa yang terjadi hari-hari ini, dari berbagai tayangan video yang bertebaran di media, dimana para pelajar yang ditangannya tergenggam arah bangsa, justru tidak bisa membaca, tidak mengenal siapa presidennya dan siapa pendiri bangsanya, bahkan tidak mengerti sejarah bangsanya sendiri, dan berbagai fenomena generasi muda lainnya sering kali kita saksikan baik didunia maya maupun di dunia nyata, yang sama sekali tidak mencerminkan bahwa mereka adalah pelajar dan bahwa mereka adalah intelektual. Entah karena sebab Pendidikannya yang buruk atau karena tontonan yang disodorkan.
Bahkan tak jarang permasalahan sosial paling fundamental sekalipun yang sangat potensi mengakibatkan dampak luas, justru ditutup-tutupi dengan berbagai macam pencitraan public seolah tidak terjadi apa-apa. Tentu tradisi semacam ini bukan lagi hal yang asing bagi mereka yang mampu menganalisis dengan jernih lingkungan sosialnya sendiri. Atau sebenarnya tahu, tetapi memilih menjadi apatis, dengan alasan mengkritik kekuasaan adalah bunuh diri paling disengaja. Dan akibatnya kita hidup dalam hegemoni yang menyesatkan dan kehilangan arah.
Melihat realita yang terjadi dilapangan hari ini tentu akan memiliki dampak luas kedepannya. Dampak Negative dan fositifnya bisa kita baca pada hari ini secara kolektif melalui fenomena yang terjadi. Dan Kutai Timur perlu berkaca dari berbagai fenomena tersebut. Sebagaimana generasi muda hari ini yang ada dikutai timur dengan berbagai macam fenomenanya penting untuk kemudian dianalisa, salah satunya adalah minimnya lieterasi yang dampaknya sangat berpotensi membawa kita pada hamparan krisis intelektual.
Kita lihat kondisi generasi muda dikutai tumur justru lebih sering disodorkan dengan kegiatan-kegiatan konser yang hampir setiap pekan dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan yang mengedukasi. Dan tentunya kegiatan-kegiatan mengundang artis semacam itu adalah kegiatan yang membutuhkan dana yang lumayan pantastis, dibandingkan dengan mengundang akademisi nasional atau membangun perpustakaan membaca untuk meningkatkan mutu intelektual yang ada di kutai timur.
Tentunya Persoalan ini adalah tanggung jawab bersama yang patut disoroti dan dievaluasi serta pembenahan dari semua elemen untuk mencapai misi Kutai Timur Hebat menuju Indonesia Emas Dua Ribu Empat Puluh Lima. Maka dari itu perlu adanya perhatian yang serius dari pemerintah setempat terkait persoalan mimimnya literasi di kutai timur untuk mencegah terjadinya krisis intelektual.

