Olahraga

Pertama di Kutim, Fu Lai 77 Mahjong Sangatta Hadirkan 3 Meja Profesional untuk Cetak Atlet Berprestasi

254
×

Pertama di Kutim, Fu Lai 77 Mahjong Sangatta Hadirkan 3 Meja Profesional untuk Cetak Atlet Berprestasi

Share this article

​SANGATTA – Olahraga tradisional mahyong kini mulai mendapatkan tempat khusus di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Sebagai wujud keseriusan dalam mengembangkan cabang olahraga ini, Fu Lai 77 Mahjong resmi beroperasi di Sangatta pada Rabu (28/10/2026), menjadikannya sebagai fasilitas mahyong pertama di wilayah Kutai Timur.

​Pemilik Fu Lai 77 Mahjong, Charolina Laoh, mengungkapkan bahwa fasilitas ini didirikan untuk memfasilitasi para peminat sekaligus menjaring bibit-bibit atlet daerah. Untuk menunjang kualitas latihan dan kenyamanan, tempat ini telah dilengkapi dengan tiga meja bermain berstandar profesional.

​”Nama ‘Fulai’ sendiri diambil dari bahasa Mandarin, yakni Fu yang berarti rezeki dan Lai yang berarti datang. Filosofi ini diharapkan selalu mendatangkan keberkahan bagi para pemain dan wadah organisasinya,” ujar Charolina.

​Ia menjelaskan, mahyong bukan sekadar rekreasi, melainkan olahraga asah otak yang potensial untuk mencetak prestasi. Mahyong merupakan olahraga tradisional berbasis meja yang bernaung di bawah SORTI (Serikat Olahraga Table Top Indonesia), yang merupakan Induk Organisasi Olahraga (INORGA) dari KORMI (Komite Olahraga Masyarakat Indonesia).

​Olahraga ini juga telah resmi dipertandingkan pada tingkat nasional, termasuk pada ajang Festival Olahraga Rekreasi Masyarakat Nasional (Fornas) 2023.

​”Di Kutai Timur sendiri, sebenarnya sudah ada satu atlet yang ikut memperkuat tim Kaltim pada ajang nasional tahun 2023 lalu, yaitu Ihsan Sauri,” ungkapnya.

​Fasilitas Fu Lai 77 Mahjong mengakomodasi dua gaya permainan yang umum dipertandingkan, yakni versi China dan Jepang. Keduanya memiliki teknik bermain yang berbeda dan dipertandingkan dalam nomor terpisah pada kejuaraan resmi.

​Kehadiran arena bermain berstandar profesional ini diharapkan mampu memperbesar ekosistem olahraga mahyong di Kutim. Terlebih, permainan ini terbuka bagi masyarakat luas tanpa batasan usia.

​”Siapa pun boleh bermain di sini. Kami berharap bibit-bibit pecinta mahyong bisa bergabung supaya komunitasnya makin besar. Dengan begitu, kita bisa membentuk induk organisasinya (Inorga) di Kutim, dan ke depannya bisa menjadi salah satu cabang olahraga prestasi yang bernaung di bawah KONI,” tutup Charolina. (Am)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *