
SANGATTA – Wakil Bupati Kutai Timur, H. Mahyunadi, S.E., M.Si., menyoroti tantangan fiskal dan arah kebijakan pembangunan infrastruktur di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) saat ini. Meskipun angka APBD menyentuh angka yang cukup fantastis yakni sekitar Rp5 triliun, ia menilai bahwa nilai ekonomis dari anggaran tersebut tidak lagi sama seperti masa lalu.
”Sekarang kursnya juga kan berbeda dengan dulu. Walaupun anggaran kita sekarang 5 triliun, cuman ya nilai ekonomis dari uang itu juga semakin kecil,” ungkap Wabup Mahyunadi dalam keterangannya baru-baru ini.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tantangan pengelolaan anggaran tidak hanya berhenti pada nilai tukar atau pergeseran nilai ekonomis uang, tetapi juga pada alokasi belanja daerah.
Menurutnya, saat ini terdapat banyak beban dari kebijakan-kebijakan mandatori (wajib) dari pusat yang harus diselesaikan oleh pemerintah daerah, sehingga ruang gerak anggaran menjadi semakin terbatas.
Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan langkah Pemerintah Kabupaten Kutai Timur untuk terus menggenjot pembangunan. Ia menegaskan komitmennya untuk memastikan bahwa proyek-proyek prioritas, terutama yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat luas, tetap menjadi yang utama.
Salah satu fokus utamanya adalah sektor infrastruktur transportasi. Pembangunan jalan dan akses transportasi dinilai sangat krusial guna memperlancar arus barang, yang pada gilirannya dapat memangkas panjangnya rantai distribusi.
Sebagai wujud nyata dari komitmen tersebut, tahun ini Pemkab Kutim telah mengesahkan alokasi anggaran yang cukup besar untuk pembangunan jangka panjang. “Kebetulan tahun ini kita juga sudah mengesahkan proyek multiyears (tahun jamak) senilai kurang lebih 1,7 triliun,” paparnya.
Pemerintah daerah menaruh harapan besar agar seluruh proyek multiyears tersebut dapat terlaksana dengan baik dan tepat waktu. Pembangunan ini ditargetkan mampu menjawab berbagai keluhan dan kebutuhan infrastruktur masyarakat di Kutai Timur.
Secara khusus, proyek-proyek prioritas ini diharapkan dapat segera menunjang dan memperlancar operasional Pelabuhan Sangatta atau Pelabuhan Kenyamukan. Optimalisasi pelabuhan tersebut diyakini akan menjadi urat nadi perekonomian baru yang memajukan dan menyejahterakan masyarakat Kutai Timur ke depannya.(ADV/Diskominfo Kutim)

