Berita

TPPS Kutim Gelar Cap Jempol Stop Stunting di Bengalon, Fokus pada Validasi Data dan Sanitasi

486
×

TPPS Kutim Gelar Cap Jempol Stop Stunting di Bengalon, Fokus pada Validasi Data dan Sanitasi

Share this article

TPPS Kutim

BENGALON – Desa Sepaso Timur, Kecamatan Bengalon, menjadi lokasi kunjungan kerja Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kutai Timur (Kutim) dalam agenda Cap Jempol Stop Stunting, Senin (17/2/2025) pagi. Kegiatan ini menekankan pentingnya pemutakhiran data By Name By Address (BNBA) serta kolaborasi lintas sektor dalam mengatasi risiko stunting di wilayah tersebut.

Sekretaris TPPS Kutim, Achmad Junaidi B, menyatakan bahwa data BNBA di lokus pertama sudah cukup memadai untuk menentukan program yang sesuai bagi keluarga berisiko stunting. Namun, ia menyoroti kebutuhan sanitasi yang belum terpenuhi.

“Keluarga di sini sudah mengikuti program KB, tetapi masih membutuhkan jamban layak. Ini harus ditindaklanjuti Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) agar indikator sanitasi terpenuhi,” ujarnya.

Sementara di lokus kedua, data BNBA belum terupdate, sehingga diperlukan validasi ulang agar intervensi yang dilakukan benar-benar tepat sasaran, terutama bagi ibu menyusui dan bayi.

“Di lokus kedua terkait kesehatan ibu dan anak. Ini sejalan dengan program Bupati untuk menekan angka stunting,” tambahnya.

Untuk itu, ia menginstruksikan Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) segera memperbarui data agar terbaca dalam sistem aplikasi. Junaidi mengapresiasi semangat para kader, Tim Pendamping Keluarga (TPK), dan perangkat desa yang tetap aktif meskipun kegiatan berlangsung dalam dua sesi.

“Semangat ini harus ditularkan ke tingkat bawah melalui pendekatan jemput bola secara berjenjang,” pesannya.

Verifikasi Data BNBA Ditekankan

Junaidi meminta Plt Camat Bengalon, Permana Lestari, untuk memimpin verifikasi data BNBA secara langsung di desa dengan melibatkan RT, TPK, PLKB, dan kepala desa.

“Duduk bersama 1-2 jam, verifikasi data per keluarga. Jika meragukan, kunjungi langsung lokasi. Pastikan hanya keluarga berisiko yang masuk data, dan tentukan program sesuai kebutuhan,” tegasnya.

Menurutnya, keakuratan data sangat krusial dalam penanganan stunting.

“Kalau data tidak valid, segera cancel dari sistem. Ini bukan sekadar administratif, tapi menyangkut nyawa generasi penerus,” tandasnya.

Ia berharap Plt Camat Bengalon dapat mengoordinasikan verifikasi data secara masif untuk memastikan tidak ada keluarga berisiko stunting yang terlewat atau salah sasaran.

“Target kita jelas, ibu dan anak sehat, sanitasi layak, dan data akurat sebagai dasar kebijakan,” ujarnya di hadapan Plt Camat Bengalon Permana Lestari, Perwakilan Puslatbang KDOD LAN WI Ahli Madya Dr. Rahmat Suparman, unsur muspika, para kades, tokoh masyarakat, serta tokoh agama.

Edukasi Pencegahan Pernikahan Dini

Sementara itu, Plt Camat Bengalon, Permana Lestari, mengungkap beberapa temuan dalam kunjungan lapangan. Salah satunya adalah masih adanya keluarga berisiko stunting yang belum memiliki jamban layak, meski telah mengikuti program KB.

“Anak-anak mereka masih kecil, empat orang, dengan ibu yang menikah di usia 13 tahun. Ini butuh edukasi pencegahan pernikahan dini,” tegasnya.

Ia mengapresiasi keberhasilan Cap Jempol Stop Stunting yang telah menjangkau 14 kecamatan dan berharap kolaborasi dengan desa semakin diperkuat agar intervensi lebih tepat sasaran.

“Saya pastikan dukungan penuh agar program ini berjalan optimal, termasuk mengubah penghargaan yang diterima jadi lebih baik,” tambahnya.

Kunjungan ini merupakan bagian dari strategi sistematis Pemkab Kutim dalam percepatan penurunan stunting. Dengan menggabungkan kekuatan data, kolaborasi lintas sektor, dan keterlibatan aktif masyarakat, diharapkan Desa Sepaso Timur dapat menjadi contoh lokus penanganan stunting berbasis data yang transparan dan terukur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *