Berita

Trail Run dan Daya Tarik Alam Kalimantan Timur: Peluang Baru Sport Tourism

492
×

Trail Run dan Daya Tarik Alam Kalimantan Timur: Peluang Baru Sport Tourism

Share this article

Dalam beberapa tahun terakhir, Kalimantan Timur menunjukkan transformasi menarik dalam lanskap pariwisatanya. Wilayah yang selama ini kerap dilekatkan dengan citra pertambangan dan industri ekstraktif mulai menghadirkan wajah lain: alam sebagai ruang pengalaman, olahraga, dan rekreasi. Maraknya penyelenggaraan event trail run di berbagai daerah menandai munculnya peluang baru sport tourism—sebuah pendekatan pariwisata yang menggabungkan olahraga, perjalanan, dan pengalaman lanskap secara langsung.

Fenomena ini tumbuh seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga berbasis alam dan pencarian pengalaman yang lebih otentik. Trail run menawarkan lebih dari sekadar kompetisi fisik; ia menghadirkan perjumpaan dengan medan, cuaca, dan ruang hidup lokal. Kalimantan Timur, dengan hutan hujan tropis, perbukitan, serta jalur alami yang masih relatif terjaga, memiliki modal geografis yang kuat. Dalam konteks ini, alam tidak lagi berfungsi sebagai latar visual, melainkan sebagai inti pengalaman yang membentuk makna olahraga itu sendiri.

Jejak trail run di Kalimantan Timur sejatinya telah dimulai lebih dari satu dekade lalu. Extreme Jungle Run (EJR) 2014 di Samarinda menjadi tonggak awal hadirnya event lari lintas alam di wilayah ini. Di tengah minimnya perhatian terhadap trail run pada masa itu, EJR memperlihatkan bahwa jalur hutan dan bentang alam sekitar kota dapat dimanfaatkan sebagai arena olahraga petualangan. Inisiatif awal ini membuka kesadaran bahwa alam Kalimantan Timur menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik sport tourism. Seiring waktu, kesadaran tersebut berkembang, bukan hanya dalam jumlah event, tetapi juga dalam kualitas penyelenggaraan dan kompleksitas lintasan.

Perkembangan itu semakin nyata melalui BET (Borneo Extreme Trail) Ultra 2023 yang digelar di Samarinda pada Bulan May. Event ini menandai fase baru trail run di Kalimantan Timur, baik dari sisi skala maupun tantangan. BET Ultra 2023 menghadirkan empat kategori lomba 10K, 20K, 30K, serta 50K, dengan jarak 50 kilometer menempatkannya dalam kategori ultra trail, yakni lintasan di atas jarak maraton 42 kilometer. Jalur yang disuguhkan merepresentasikan karakter alam Kalimantan secara autentik: jejeran perbukitan dengan vegetasi rapat, tanah becek dan berlumpur, lintasan alami berupa akar dan “kabel-kabel” alam, aliran sungai kecil di dalam hutan, air terjun mini, kemiringan bukit yang menguras stamina, hingga serangga hutan dan tanaman berduri yang menyertai perjalanan pelari. BET Ultra 2023 tidak hanya menguji ketahanan fisik, tetapi juga menegaskan relasi intim antara olahraga dan lanskap alam Kalimantan Timur.

Suasana pelepasan peserta Borneo Extreme Trail (BET) Ultra di Samarinda, May 2023, yang memanfaatkan jalur alam sebagai arena olahraga dan wisata petualangan.

Pengalaman ekstrem tersebut memperlihatkan bahwa trail run di Kalimantan Timur telah bergerak melampaui sekadar ajang kompetisi. Ia menjadi medium perjumpaan langsung antara manusia dan alam, sekaligus ruang refleksi tentang keberlanjutan. Perspektif ini kemudian diperluas melalui Sangatta Trail Run 2024, sebuah event yang secara sadar mengintegrasikan olahraga dengan kampanye kepedulian lingkungan. Diinisiasi oleh Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) Kabupaten Kutai Timur di bawah kepemimpinan Abdul Kadir Jaelani, bekerja sama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kutai Timur, trail run diposisikan sebagai pesan simbolik di tengah wilayah industri dan pertambangan: bahwa ruang hidup dan alam perlu dijaga melalui partisipasi kolektif.

Pendekatan berbasis komunitas juga tampak dalam Swarga Bara Trail Run 2025, hasil kolaborasi ALTI Kabupaten Kutai Timur dan Pemerintah Desa Swarga Bara. Event ini dirancang untuk mempromosikan potensi sport tourism berbasis desa dengan memanfaatkan jalur alam dan lanskap lokal. Kehadiran trail run di tingkat desa menandai pergeseran penting dalam pembangunan pariwisata—bahwa desa tidak lagi diposisikan sebagai objek, melainkan sebagai subjek pengembangan. Olahraga menjadi alat pemberdayaan ekonomi, penguatan identitas lokal, sekaligus ruang partisipasi masyarakat.

Swarga Bara Trail Run 2025, kolaborasi ALTI Kabupaten Kutai Timur dan Pemerintah Desa Swarga Bara dalam mengangkat potensi sport tourism desa melalui olahraga lari lintas alam

Dalam kerangka yang lebih luas, trail run berfungsi sebagai produk sport tourism yang memiliki dampak ekonomi dan sosial. Peserta tidak hanya datang untuk berlari, tetapi juga menginap, berbelanja, dan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Dampak ini semakin menguat dengan hadirnya event berskala besar seperti Borneo Extreme Jungle Run (BEJR) pada Juli 2025 Borneo Ultra Mixed Trail (BUMT) di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Bontang International Ultra Trail (BIUT) pada November 2025, serta FORCE 2025 yang digelar PT Badak NGL. Rangkaian event ini menunjukkan bahwa trail run telah menjadi instrumen promosi wilayah sekaligus penggerak ekonomi lokal.

Fenomena trail run di Kalimantan Timur dapat dibaca melalui perspektif teori Nancy Thumim, khususnya pada tiga aspek utama: nilai, partisipasi, dan identitas. Pertama, nilai yang dihasilkan tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga simbolik. Event trail run memproduksi makna baru tentang Kalimantan Timur sebagai ruang petualangan, kesehatan, dan keberlanjutan. Alam tidak lagi dipersepsikan semata sebagai sumber eksploitasi, melainkan sebagai aset pengalaman yang bernilai.

Kedua, partisipasi menjadi elemen kunci. Keterlibatan komunitas lari, relawan, UMKM, pemerintah daerah, hingga masyarakat desa menunjukkan bahwa audiens tidak bersifat pasif. Mereka turut membangun pengalaman dan narasi event. Dalam pandangan Thumim, makna lahir dari interaksi antara produsen dan partisipan. Trail run hidup karena kolaborasi lintas aktor.

Ketiga, trail run berkontribusi pada pembentukan identitas kolektif. Event di kawasan industri seperti Sangatta dan Bontang membangun citra baru yang lebih ramah lingkungan dan manusiawi. Sementara itu, penyelenggaraan trail run di kawasan IKN membawa simbol kuat tentang wajah ibu kota masa depan: sehat, dekat dengan alam, dan berorientasi pada keberlanjutan. Identitas ini kemudian diproduksi, disirkulasikan, dan dikonsumsi melalui media dan media sosial.

Namun, peluang besar ini menuntut pengelolaan yang bertanggung jawab. Risiko kerusakan lingkungan, keselamatan peserta, serta kesiapan infrastruktur tidak boleh diabaikan. Sport tourism berbasis trail run perlu diarahkan pada prinsip keberlanjutan melalui regulasi, pembatasan peserta, edukasi lingkungan, serta perencanaan lintas sektor.

Pada akhirnya, trail run membuka jalan baru bagi Kalimantan Timur untuk mendefinisikan ulang arah pembangunan pariwisatanya. Dengan memanfaatkan kekuatan alam, partisipasi komunitas, dan narasi identitas yang inklusif, trail run berpotensi menjadikan Kalimantan Timur sebagai destinasi unggulan sport tourism nasional. Tantangan utamanya kini bukan lagi soal potensi, melainkan bagaimana memastikan setiap jejak langkah pelari tetap selaras dengan kelestarian alam dan masa depan daerah.

Penulis : Nurrakhmat Hendayana

Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *