
SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Koperasi dan UMKM menetapkan strategi baru untuk mendorong penetrasi pasar global bagi produk unggulan daerah, khususnya gula semut dan kakao. Alih-alih hanya berfokus pada penjajakan awal, Pemkab kini memprioritaskan peningkatan kesiapan produksi dan standar kualitas para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kutim, Teguh Budi Santoso, mengungkapkan bahwa potensi ekspor kedua komoditas tersebut sudah terlihat, namun tantangan terbesar saat ini adalah kesenjangan antara kapasitas produksi lokal dengan permintaan skala besar dari pembeli internasional.
“Tantangan terbesar bukan lagi mencari buyer, melainkan memastikan UMKM kita mampu memenuhi kuantitas dan konsistensi yang diminta. Jika ada pesanan besar, kita harus siap. Karena itu, kami mendorong adanya kerja sama dan konsolidasi antar-pelaku usaha untuk memperkuat kapasitas produksi secara kolektif,” jelas Teguh.
Dalam upaya memenuhi standar pasar ketat, Dinas Koperasi tidak hanya memfasilitasi negosiasi bisnis, tetapi juga berfokus pada pelatihan teknis lanjutan. Program ini dirancang untuk mengatasi kelemahan dalam rantai pasok:
- Gula Semut: Pelatihan higienitas dan standarisasi proses pengolahan petani untuk menjaga kualitas produk tetap stabil.
- Kakao: Penekanan pada proses fermentasi dan pengemasan, yang merupakan kunci mutu kakao di pasar global.
“Kami akan menghadirkan lembaga sertifikasi dan mengundang buyer secara langsung ke Kutim. Tujuannya agar UMKM mendapat masukan langsung mengenai standar kualitas dan logistik yang harus dipenuhi,” tambah Teguh.
Teguh Budi Santoso juga menyoroti peran penting yang dimainkan oleh diaspora Indonesia di luar negeri dalam membuka peluang pasar kakao Kutim.
“Kami telah menjalin komunikasi dan inisiasi kerja sama dengan IT Diaspora sejak Agustus lalu. Jaringan mereka sangat vital dalam memperkenalkan kakao Kutim ke komunitas bisnis di luar negeri, yang diharapkan dapat mempercepat terjadinya kontrak ekspor permanen,” ungkapnya.
Dengan perpaduan strategi peningkatan kualitas, konsolidasi produksi, dan pemanfaatan jaringan diaspora, Pemerintah Kutim optimistis bahwa gula semut dan kakao akan menjadi pelopor. Keberhasilan dua komoditas ini diharapkan dapat menarik produk lokal lain, seperti madu, kopi, dan amplang, untuk menyusul memasuki pasar global, sekaligus mendongkrak nilai jual dan kesejahteraan masyarakat Kutim.(ADV/KOM)

