Berita

FPB Kutai Timur 2025: Lokomotif Ekonomi Lokal, Omzet UMKM Tembus Ratusan Juta Rupiah

381
×

FPB Kutai Timur 2025: Lokomotif Ekonomi Lokal, Omzet UMKM Tembus Ratusan Juta Rupiah

Share this article

SANGATTA – Perayaan akbar Festival Pesona Budaya (FPB) Kutai Timur (Kutim) 2025 sukses membuktikan perannya ganda sebagai panggung utama kreativitas seni dan sekaligus sebagai motor penggerak perekonomian komunitas lokal. Selama tiga hari penyelenggaraan, festival ini tidak hanya menyajikan pertunjukan budaya yang memukau, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi yang signifikan, terutama bagi para Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, Mulyono, saat menyampaikan sambutan pada penutupan kegiatan, Minggu (23/11/2025) di Alun-alun Bukit Pelangi, menggarisbawahi integrasi strategis antara pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi.

“Syukur Alhamdullilah, FPB Kutim berjalan lancar. Acara ini tak hanya berfungsi melestarikan kesenian daerah, namun juga menyediakan platform penting bagi UMKM untuk bertumbuh dan meningkatkan pendapatan mereka,” ujar Mulyono.

Fokus Pemerintah Kabupaten Kutim untuk memberdayakan sektor UMKM melalui setiap acara besar kembali menuai hasil positif. Ketua Penyelenggara FPB 2025, Padliyansyah, melaporkan antusiasme yang tinggi dari pelaku usaha yang berpartisipasi.

“Ada sedikit perbedaan tahun ini karena kami berhasil menghadirkan sekitar 40 stan UMKM yang ikut meramaikan suasana festival,” terangnya.

Meskipun durasi acara relatif singkat, transaksi perdagangan yang terjadi sangat menjanjikan. Data awal menunjukkan bahwa total omzet yang berhasil dibukukan oleh UMKM sudah melampaui angka Rp200 juta, terhitung hingga malam sebelum acara penutupan.

“Sampai tadi malam saja, kami mencatat omzet sudah melebihi Rp200 juta. Dengan banyaknya pengunjung yang datang malam ini, kami optimis angka tersebut akan terus melonjak naik,” tambah Padliyansyah dengan penuh keyakinan.

Volume transaksi yang besar ini merupakan bukti nyata bahwa FPB bukan sekadar seremonial budaya, melainkan sebuah event yang secara efektif mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan. Ribuan pengunjung yang memadati area festival memberikan dorongan langsung terhadap penjualan produk kuliner, kerajinan tangan, dan berbagai produk kreatif lainnya.

Pemkab Kutim berkomitmen untuk terus memperkuat konsep festival inklusif yang tidak hanya merayakan kekayaan tradisi, tetapi juga membuka peluang bisnis selebar-lebarnya bagi masyarakat. Hal ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Pemkab untuk meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan pelaku usaha di tingkat lokal.(ADV/KOM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *