Berita

Disdikbud Kutim Siap Ubah HDI Jadi Program Berkelanjutan dan Beranggaran Jelas

362
×

Disdikbud Kutim Siap Ubah HDI Jadi Program Berkelanjutan dan Beranggaran Jelas

Share this article

SANGATTA — Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur, Mulyono, menegaskan komitmen kuatnya untuk mentransformasi peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) menjadi program inklusi yang terencana, berkesinambungan, dan didukung penuh oleh anggaran daerah.

Pernyataan ini muncul menyusul arahan tegas Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman dalam acara HDI 2025 di Ruang Meranti Kantor Bupati, Rabu (3/12/2025), yang mengangkat tema “Berkarya Tanpa Batas.” Acara ini sukses menyoroti potensi siswa-siswi disabilitas dari SLB Negeri Kutim, SLB Darussalam, dan Sekolah Inklusi Bahasa Hati yang tampil dengan beragam talenta seni.

Dalam sambutannya, Bupati Ardiansyah secara eksplisit menyoroti beban yang selama ini diemban oleh para guru SLB, yang kerap harus mengurus proposal demi terselenggaranya kegiatan bagi siswa mereka.

“Guru-guru SLB harus fokus sebagai pelaksana karena paling memahami kebutuhan siswa. Urusan pendanaan harus ditangani dinas pengampu di kabupaten,” tandas Bupati. Arahan ini bertujuan memastikan bahwa program disabilitas di kabupaten memiliki payung anggaran yang jelas, tidak lagi bergantung pada inisiatif personal.

Menyambut instruksi tersebut, Mulyono langsung menyatakan kesiapan Disdikbud untuk mengambil peran sentral.

“Kami siap menyusun program yang berkelanjutan,” ujar Mulyono, menggarisbawahi tekad dinasnya untuk menjadikan HDI dan program pendukung lainnya sebagai agenda tahunan yang terstruktur dan terjamin pendanaannya.

Komitmen Mulyono ini sangat relevan mengingat tantangan berat yang dihadapi para guru SLB. Kepala SLB Negeri Kutim, Haristo, sebelumnya memaparkan bahwa tugas guru di SLB melampaui kurikulum formal.

“Mengajar di SLB punya tantangan tersendiri. Yang kami berikan bukan hanya ilmu, tetapi juga dedikasi luar biasa. Mulai dari proses belajar hingga toilet training, semuanya menjadi tanggung jawab guru,” ungkap Haristo.

Dengan ditunjuknya Disdikbud sebagai salah satu dinas pengampu utama, Mulyono berharap para guru dapat berkonsentrasi penuh pada proses edukasi dan pembinaan siswa, sementara kebutuhan administrasi dan pendanaan ditangani secara sistematis oleh pemerintah daerah.

Selain dukungan anggaran, Mulyono juga mendukung penuh seruan Bupati untuk menghapus stigma negatif di masyarakat, memastikan setiap anak disabilitas diberi ruang dan kesempatan yang setara untuk aktualisasi diri.

Melalui kesiapan Disdikbud di bawah kepemimpinan Mulyono, Kutim bertekad menegaskan bahwa inklusivitas merupakan investasi berkelanjutan dari pemerintah, memastikan bahwa kesempatan bagi setiap anak disabilitas untuk melampaui batas dapat terwujud.(ADV/KOM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *