
SANGATTA — Calon anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Kutai Timur yang tengah mengikuti pemusatan pendidikan dan pelatihan diingatkan untuk lebih kritis dalam menyaring arus informasi di era digital. Sebagai generasi muda pilihan, mereka dituntut mampu membedakan informasi valid dari narasi bohong atau hoax.
Hal tersebut disampaikan oleh Pemimpin Redaksi WartaKutim.com, Imran Amir, saat memberikan pembekalan literasi digital di Pusdiklat Paskibraka Kutim, Selasa malam.
Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa literasi digital bukan sekadar kecakapan mengoperasikan gawai atau mengakses internet, melainkan kemampuan memahami, menilai, serta memanfaatkan informasi secara cerdas, aman, dan bertanggung jawab.
Imran menjelaskan bahwa di era keterhubungan teknologi saat ini, literasi digital telah menjadi salah satu kompetensi mendasar yang menentukan kualitas individu maupun masyarakat. Kemampuan ini mencakup seluruh tahapan pengelolaan informasi, mulai dari pencarian, verifikasi kebenaran, penggunaan, hingga pendistribusiannya ke publik.

Lebih lanjut, jurnalis senior ini menyoroti kekeliruan umum masyarakat dalam mengadopsi teknologi informasi. Menurutnya, perkembangan teknologi pada dasarnya bukanlah sebuah ancaman. Ancaman justru muncul ketika masyarakat menggunakan teknologi tanpa pengetahuan, kehati-hatian, serta rasa tanggung jawab. Ia juga memaparkan sejumlah contoh kasus pelanggaran hukum yang berpotensi menjerat pengguna internet melalui UU ITE.
Menutup paparannya, Imran berharap seluruh peserta Pusdiklat Paskibraka Kutim dapat mengambil peran aktif sebagai duta digital yang memberi teladan di dunia nyata maupun dunia maya. Para calon pengibar bendera ini diimbau untuk senantiasa cerdas memilah informasi sebelum membagikannya, mengedepankan etika dan kesantunan dalam berinteraksi, menjaga kerahasiaan data pribadi, serta konsisten menyebarkan konten positif yang edukatif dan membangun semangat kebangsaan. (*)

