
KUTAI TIMUR – Dua mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Multikultural Universitas Islam Malang (UNISMA), Aswadi, M.Pd., dan Ismail Rahmat, M.Pd., melaksanakan pengabdian masyarakat di SMK Negeri 2 Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, pada Senin (27/10/2026). Kegiatan bertajuk “Kandidat Doktor Mengabdi” ini berkolaborasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Kutai Timur.
Mengusung tema “Penguatan Pendidikan Agama Islam Multikultural dalam Membentuk Karakter Peserta Didik dan Mencegah Penyalahgunaan Narkoba”, kegiatan ini merupakan wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ilmu yang didapat di bangku doktoral diaplikasikan langsung untuk membentengi para taruna-taruni dari ancaman narkoba.
SMK Negeri 2 Sangatta Utara dipilih sebagai lokasi pengabdian karena karakteristiknya yang unik. Sekolah unggulan ini menerapkan pendidikan semi-militer dengan latar belakang siswa yang sangat beragam, mulai dari suku Jawa, Bugis, Dayak, Kutai, hingga Banjar. Keberagaman ini dinilai sebagai laboratorium hidup yang ideal untuk menguji teori PAI Multikultural yang toleran dan moderat.

Dalam pemaparannya, Ismail Rahmat dan Aswadi menjelaskan bahwa PAI Multikultural berfungsi sebagai ‘vaksin sosial’ anti-narkoba. Pendekatan ini berfokus pada penguatan keimanan (merasa diawasi oleh Allah), penanaman akhlak mulia, pengembangan toleransi antarsuku dan agama, pencegahan perundungan (bullying), serta tanggung jawab digital dalam bermedia sosial.
Kolaborasi ini semakin komprehensif dengan hadirnya Kepala BNN Kabupaten Kutai Timur, AKBP Risnoto, S.H., M.H., yang membeberkan data faktual terkait ancaman narkoba. Ia mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, sitaan sabu BNNP Kalimantan Timur melonjak drastis hingga 1.650 persen (mencapai 42 kg). Kutai Timur yang merupakan jalur transit rawan kini menghadapi modus baru pengedaran narkoba ke pelajar, seperti cairan vape campuran narkoba sintetis, permen, brownies, hingga pil koplo seharga Rp 10 ribu.
”Dampak narkoba tidak hanya merusak fisik dan mental, tetapi juga masa depan secara total. Saat ini, hampir semua perusahaan besar di Kutai Timur, baik tambang maupun sawit, mewajibkan tes urine. Jika positif, pelamar akan langsung di-blacklist. Skill dan ijazah bagus tidak ada artinya jika karakter rusak karena narkoba,” tegas AKBP Risnoto.

Plt Kepala SMK Negeri 2 Sangatta Utara, Nahliana, menyambut baik dan mengapresiasi program mandat akademik dari UNISMA ini. Ia menilai materi yang diberikan sangat melengkapi visi sekolah.
”Kami membutuhkan penguatan teoritis PAI Multikultural untuk mendukung pendidikan semi-militer kami. Tujuannya agar kedisiplinan taruna lahir dari kesadaran iman dan moral, bukan sekadar takut hukuman, serta mencegah konflik yang bisa berujung pada pelarian ke narkoba,” ungkap Nahliana.

Pihak sekolah dan tim UNISMA turut menyampaikan terima kasih kepada Kepala BNN Kutim serta Rektor UNISMA yang telah memfasilitasi terselenggaranya kegiatan ini. Harapannya, sinergi ini menjadi percontohan dan langkah awal terwujudnya SMKN 2 Sangatta Utara sebagai “Sekolah Hebat” dan “Sekolah Bersinar” (Bersih Narkoba) di Kutai Timur.(kW)

