Kutai TimurPemerintahan

Yuwana: Eliminasi HIV, TBC, dan Malaria Jadi PR Besar, Kutim Genjot Tracing TBC di 118 Lokus

284
×

Yuwana: Eliminasi HIV, TBC, dan Malaria Jadi PR Besar, Kutim Genjot Tracing TBC di 118 Lokus

Share this article

SANGATTA – Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur terus memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit menular sebagai bagian dari target nasional eliminasi AIDS (HIV), tuberkulosis (TBC), dan malaria pada 2030.

Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, dr. Hj. Yuwana Sri Kurniawati, M.Si, mengatakan ketiga penyakit tersebut menjadi perhatian serius pemerintah karena tergolong penyakit menular yang berisiko tinggi dan mematikan.

Yuwana menjelaskan, Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan besar, terutama untuk kasus tuberkulosis. Bahkan, Indonesia menempati peringkat kedua di dunia dengan jumlah penderita TBC terbanyak.

“Padahal TBC sebenarnya bisa diobati dan disembuhkan, asalkan pasien disiplin minum obat secara rutin sampai tuntas,” ujarnya.

Menurutnya, banyak pasien menghentikan pengobatan sebelum waktunya sehingga masa terapi yang seharusnya enam bulan menjadi lebih lama. Kondisi tersebut bahkan dapat menyebabkan TBC resisten obat, yang penanganannya jauh lebih sulit karena memerlukan pemeriksaan kultur untuk menentukan jenis obat yang sesuai.

Ia menegaskan, satu penderita TBC berpotensi menularkan penyakit kepada rata-rata 20 orang jika tidak segera ditemukan dan diobati. Karena itu, Dinas Kesehatan bersama mitra, seperti PPTI dan DPPM, terus melakukan pelacakan kasus aktif di masyarakat.

Sebagai bagian dari program tersebut, Kutai Timur mendapat dukungan dari Kementerian Kesehatan untuk melaksanakan tracing TBC di 118 lokus. Pada setiap lokasi, petugas ditargetkan melakukan skrining terhadap 100 orang hingga Desember 2026.

“Tracing dilakukan terutama di wilayah yang sudah ditemukan kasus positif TBC agar penularannya bisa segera diputus,” katanya.

Selain penyakit menular, Yuwana juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan ibu dan anak sebagai langkah mencegah stunting. Ia mengajak ibu hamil dan orang tua balita rutin memanfaatkan layanan posyandu dan fasilitas kesehatan untuk memantau tumbuh kembang anak.

Ia juga meminta masyarakat mengikuti program pemberian vitamin A guna mencegah gangguan kesehatan, termasuk risiko kebutaan pada anak.

Menghadapi musim kemarau dan dampak El Nino, Dinas Kesehatan Kutai Timur juga meningkatkan kesiapsiagaan terhadap penyakit akibat perubahan iklim, khususnya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dipicu kabut asap kebakaran hutan dan lahan.

“Kami sudah menyiapkan masker melalui seluruh puskesmas. Jika stok di puskesmas habis, masyarakat atau puskesmas dapat mengajukan permintaan ke Dinas Kesehatan,” pungkas Yuwana.(ADV/Diskominfo Kutim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *