Berita

Strategi Komprehensif Dinkes Kutim Atasi Stunting: Pendekatan Berbasis Siklus Hidup Dijalankan

384
×

Strategi Komprehensif Dinkes Kutim Atasi Stunting: Pendekatan Berbasis Siklus Hidup Dijalankan

Share this article

Kutai Timur – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat komitmennya dalam penanganan dan pencegahan stunting melalui implementasi strategi berbasis siklus hidup. Pendekatan ini mencakup intervensi mulai dari fase remaja, kehamilan, persalinan, hingga periode tumbuh kembang anak usia dini. Plt. Kepala Dinkes Kutim, Sumarno, menegaskan bahwa fokus utama penanggulangan adalah pencegahan kasus baru.

Sumarno menjelaskan, anak-anak yang telah terdiagnosis stunting tetap menerima pendampingan yang intensif dan berkelanjutan untuk memastikan perkembangan kualitas kognitif dan fisik mereka tetap optimal.

“Anak yang sudah mengalami stunting akan kami follow up secara berkesinambungan agar perkembangan otaknya dapat termaksimalkan. Karena stunting sangat memengaruhi tumbuh kembang anak, pendampingan dari kami tidak boleh terputus,” ujarnya.

Dalam upaya pencegahan, Dinkes Kutim menerapkan strategi intervensi berlapis. Program yang ditujukan untuk remaja putri, khususnya siswi SMA, adalah pemberian tablet tambah darah secara rutin. Inisiatif ini krusial untuk memperbaiki status gizi calon ibu sejak dini dan secara signifikan mereduksi risiko melahirkan anak stunting di masa mendatang.

“Kami memulai pencegahan dari awal siklus hidup. Intervensi dimulai sejak anak SMA didampingi dan diberi tablet penambah darah, kemudian berlanjut pada ibu hamil, persalinan, hingga fase pasca melahirkan,” kata Sumarno.

Ia menambahkan bahwa seluruh organisasi profesi kesehatan utama, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI), terlibat aktif dalam upaya edukasi dan pendampingan. Organisasi-organisasi ini bertanggung jawab membina dan memastikan anggotanya turut mendorong program pencegahan stunting di lapangan.

“Semua organisasi profesi terlibat dalam pendampingan. Misalnya, IBI membina para bidan, IDI juga demikian. Mereka ikut menyukseskan program ini,” jelasnya.

Untuk mendukung keberlanjutan program, Dinkes Kutim juga berupaya memperluas pelayanan gizi di Puskesmas dan berbagai desa. Selain itu, kader kesehatan didorong untuk melaksanakan pemantauan pertumbuhan balita secara lebih berkala dan proaktif.

Dengan pendekatan yang bersifat menyeluruh dan multisektor ini, Sumarno berharap angka kasus stunting di Kutai Timur dapat terus ditekan secara efektif.

“Hal yang paling penting adalah memastikan program pencegahan berjalan optimal. Itu prioritas utama kami,” tegasnya.(ADV/KOM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *