Berita

Harapan di Ujung Anggaran: Kisah-kisah di Balik Dorongan Yusri Yusuf Agar Dana Desa Menyentuh Hati Warga

378
×

Harapan di Ujung Anggaran: Kisah-kisah di Balik Dorongan Yusri Yusuf Agar Dana Desa Menyentuh Hati Warga

Share this article

KUTAI TIMUR – Di tengah hiruk pikuk pembahasan kebijakan dan anggaran, ada secercah harapan yang terus diperjuangkan oleh Anggota DPRD Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Yusri Yusuf. Bukan sekadar tentang angka dan proyek besar, dorongan kuat politisi ini berpusat pada satu hal: memastikan setiap rupiah anggaran desa dan RT benar-benar memberi senyum dan harapan baru bagi kehidupan warga di tingkat paling bawah.

Bagi Yusri, dana yang dikucurkan Pemerintah bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan sebuah investasi sosial yang harus mampu mengangkat martabat dan menyejahterakan masyarakat.

“Dana desa dan anggaran RT itu harus digunakan sebaik mungkin untuk menyejahterakan masyarakat,” kata Yusri Yusuf dengan nada penuh perhatian, Jumat (14/11/2025). “Ini bukan cuma soal membangun jalan lingkungan atau sarana umum, tapi juga harus diterjemahkan menjadi program pelatihan keterampilan agar ekonomi warga meningkat.”

Pesan Yusri ini menyentuh hati banyak warga desa yang selama ini hanya melihat dana desa fokus pada pembangunan fisik—betonisasi, jembatan kecil, atau balai desa. Sementara, kebutuhan mereka yang lebih mendesak, seperti sumber penghasilan tambahan atau pelatihan untuk anak muda, sering terabaikan.

Legislator dari Partai Demokrat ini ingin melihat desa-desa di Kutim berubah. Ia melihat potensi besar yang tersembunyi, mulai dari hasil pertanian yang melimpah hingga kerajinan tangan lokal yang unik, yang selama ini belum tergarap maksimal karena minimnya pelatihan dan pendampingan.

“Bayangkan, banyak potensi ekonomi di desa yang sebenarnya bisa meledak jika masyarakatnya diberikan pelatihan dan pendampingan yang tepat,” ujarnya.

Dia mencontohkan, alih-alih hanya membangun pagar desa, anggaran bisa dialihkan untuk membiayai pelatihan UMKM bagi ibu-ibu rumah tangga, mengajarkan pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai jual tinggi, atau bahkan menyediakan pelatihan digital bagi para pemuda . Program-program ini, menurutnya, adalah jalan langsung menuju peningkatan kemandirian ekonomi keluarga.

Namun, optimalisasi anggaran ini tidak akan berjalan tanpa satu kunci utama: keterlibatan dan transparansi.

Yusri menekankan bahwa kepala desa harus membuka hati dan telinga lebar-lebar untuk warganya. Perencanaan program tidak boleh hanya dilakukan di ruang tertutup, melainkan harus melibatkan diskusi langsung dengan masyarakat—mendengarkan keluhan, harapan, dan prioritas yang mereka butuhkan.

“Yang paling penting adalah transparansi dan perencanaan yang matang. Libatkan masyarakat, dengarkan kebutuhannya, dan pastikan anggaran digunakan sesuai prioritas,” tegasnya.

Dorongan Yusri ini adalah panggilan untuk menggunakan anggaran desa tidak hanya dengan akal, tetapi juga dengan hati nurani. Ia berharap, seluruh desa dan RT di Kutai Timur menjadi lebih kreatif dan peka dalam memanfaatkan dana yang ada, sehingga setiap tahun, cerita tentang kesejahteraan warga yang meningkat dapat menjadi kisah nyata di setiap sudut desa.

Kini, bola ada di tangan para kepala desa dan ketua RT. Maukah mereka mengubah fokus dari sekadar proyek fisik, menjadi investasi jangka panjang pada keterampilan dan harapan warganya? Itulah tantangan yang disuarakan Yusri Yusuf.(Adv/DPRD)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *