Berita

Tarsul, Sastra Lisan Kutai, Pukau Penonton di Puncak FPB Kutim 2025

381
×

Tarsul, Sastra Lisan Kutai, Pukau Penonton di Puncak FPB Kutim 2025

Share this article

SANGATTA – Keindahan sastra lisan dan musik tradisional Kutai berhasil merebut perhatian publik pada malam penutupan Festival Pesona Budaya (FPB) Kutai Timur (Kutim) 2025. Pertunjukan kesenian klasik Tarsul tampil sebagai atraksi utama, menghadirkan nuansa budaya yang kental dan sarat dengan nilai-nilai historis. Acara berlangsung meriah pada Minggu (23/11/2025) di Lapangan Alun-alun Bukit Pelangi.

Sejak awal rangkaian event, panitia FPB telah mengumumkan bahwa Tarsul akan menjadi salah satu suguhan spesial. Dibawakan oleh dua talenta muda berbakat Kutim, Zahud Fauzi Abror dan Nur Alya Anugerah Putri, penampilan ini menjadi indikasi positif bahwa upaya regenerasi pelaku seni tradisional terus berjalan. Partisipasi mereka menunjukkan kesungguhan Pemerintah Kabupaten Kutim dalam merawat seni-seni klasik yang belakangan ini kian jarang dipertontonkan di ruang publik.

Tarsul adalah seni khas masyarakat Kutai yang unik, menggabungkan harmonisasi musik tradisional dengan narasi sastra berupa pantun, nasihat, atau cerita yang mengandung pesan moral. Kesenian ini lazimnya ditampilkan oleh dua individu atau lebih, berfungsi sebagai media penyampai pesan bijak dan dokumentasi kekayaan budaya masa lampau.

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, memberikan apresiasi khusus atas kehadiran Tarsul di panggung utama FPB.

“Kita tadi berkesempatan menyaksikan penampilan Tarsul, sebuah kesenian klasik Kutai yang secara jelas merefleksikan kehidupan masyarakat pada masa komunitas itu bertumbuh dan berkembang,” ujar Bupati, menekankan pentingnya nilai filosofis dan catatan sejarah yang terkandung dalam seni tersebut.

Kesungguhan pelestarian Tarsul juga ditunjukkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim. Kepala Disdikbud, Mulyono, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menetapkan rencana detail untuk menggelar pelatihan khusus kesenian tradisional pada tahun anggaran 2026.

“Kami sudah menyusun program pada tahun 2026 untuk melaksanakan pelatihan bagi para pelatih kesenian tradisional. Ini mencakup Cepen, Tingkilan, dan tentunya juga Tarsul,” papar Mulyono.

Program ini bertujuan strategis untuk mencetak tenaga pengajar berkualitas yang memiliki kapabilitas membina generasi muda. Tujuannya adalah memastikan agar generasi penerus tetap teredukasi dan memiliki kecintaan yang tinggi terhadap seni asli Kutai.

Penampilan Tarsul oleh Zahud dan Nur Alya pada penutupan FPB adalah lebih dari sekadar tontonan; ia adalah pengingat bahwa seni klasik Kutai masih bernyawa dan relevan. Pemerintah daerah menyatakan komitmennya untuk terus mendorong pelestarian, memastikan Tarsul tidak hanya menjadi kenangan indah masa lalu, tetapi juga warisan berharga bagi generasi mendatang.(ADV/KOM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *