
SANGATTA – Di balik capaian Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang berhasil melompat dari kategori “kurang inovatif” menjadi “kabupaten inovatif” di tingkat nasional, ada peran sentral dari Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kutim. Sosok Edi Supriyanto, Analis Pemanfaatan IPTEK Brida, menjadi salah satu penggerak utama di balik event tahunan Sanga Belida (Belomba Inovasi Daerah), yang kini memasuki tahun ketiga.
Mewakili Kepala Brida Juliansyah, Edi Supriyanto, mengenang kembali latar belakang dimulainya lomba ini. Sanga Belida pertama kali diadakan sebagai respons terhadap rendahnya indeks inovasi daerah Kutim beberapa tahun lalu.
“Awalnya indeks inovasi kita memang masih rendah. Dengan adanya lomba ini, kami berharap nilainya bisa terus meningkat,” ujar Edi, yang melihat Sanga Belida sebagai wadah strategis untuk menjaring, memfasilitasi, dan mendaftarkan berbagai gagasan inovatif dari perangkat daerah hingga masyarakat umum.
Meskipun menghadapi keterbatasan anggaran, Edi dan tim Brida tetap optimistis. Bersama dengan peneliti Brida lainnya, Bagus Rai Wibowo, Edi mengarahkan tema lomba tahun 2025 ini secara spesifik pada inovasi pelayanan publik.
“Tahun ini kami fokus pada pelayanan publik karena manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat, dengan bentuk inovasi bisa berbentuk digital maupun non-digital,” jelas Bagus Rai Wibowo, yang mendukung strategi Edi agar inovasi memiliki dampak langsung.
Pendaftaran Sanga Belida tahun ini resmi ditutup dengan partisipasi lima peserta, terdiri dari perwakilan kecamatan dan perangkat daerah, menunjukkan semangat inovasi yang mulai tumbuh di berbagai lini pemerintahan.
Perjuangan yang diinisiasi oleh Edi Supriyanto dan tim Brida telah membuahkan hasil signifikan. Dari kategori “kurang inovatif” dua tahun lalu, Kutim kini berhasil naik kelas menjadi “kabupaten inovatif” dengan nilai skor 48,88. Kenaikan ini menjadi bukti bahwa program Sanga Belida telah efektif mendorong budaya inovasi.
Namun, target Kutim belum usai. Saat ini, Brida tengah menantikan SK Indeks Inovasi Daerah dari Kemendagri yang akan keluar Desember nanti. Edi dan tim menargetkan kategori tertinggi, yaitu “sangat inovatif”, yang memerlukan skor minimal 65,00 dan berhak atas insentif fiskal.
Edi Supriyanto optimistis bahwa melalui konsistensi penyelenggaraan Sanga Belida dan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi yang dilibatkan sebagai juri (seperti STIENUS dan STIPER Kutim), Kutim akan mampu mencapai target tersebut. Keberlanjutan Sanga Belida adalah kunci bagi peningkatan kualitas layanan publik, efisiensi pembangunan, dan penguatan posisi Kutim sebagai daerah yang mandiri dan berdaya saing.(Adv/Hms)

